Kamis, 10 Mei 2018

Kamis, 10 Mei 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori
Penyebab Penyakit Predisposisi

Penyebab ini merupakan penyebab penyakit yang berasal dari hal-hal umum, penyebab seperti ini termasuk umur hewan, cuaca atau kondisi musim, yang mungkin menyebabkan hewan terkena hujan lebat atau keadaan dingin yang sangat, kondisi tropis dari matahari dan keadaan panas terik yang mungkin menyebabkan ketahanan hewan terhadap penyakit menurun, polusi udara atau kontaminasi air, kualitas pakan yang buruk seperti jerami berjamur dan tanaman hijauan penyebab perut kembung, kerja terlalu berat, kondisi keturunan yang diperoleh dari induk dan kondisi penyakit tertentu.

Penyakit Akut dan Menahun

Istilah ini dipergunakan untuk menyatakan terjadi dan lamanya penyakit. Istilah akut memiliki arti suatu penyakit yang dimulai secara cepat dan kemudian berlangsung dalam waktu yang pendek. Kronis dipergunakan dalam keadaan suatu penyakit yang terjadi dalam waktu lama atau bahkan mungkin dalam periode yang tidak terbatas.

Peradangan (Akut)

Istilah ini dipergunakan untuk reaksi tubuh dalam menahan luka, iritasi, fraktura dan penyakit. Dalam proses peradangan jaringan atau bagiannya melewati sejumlah stadium (a) menjadi merah karena lebih banyak darah dengan banyak sel darah putih menuju ke daerah peradangan dan (b) menjadi panas, bengkak dan sakit dan tidak berfungsi secara sempurna. Apabila penyebabnya disingkirkan, organ direlaksasi dan diberikan terapi maka dapat terjadi kesembuhan.

Peradangan (Menahun)

Pada peradangan menahun terjadinya panas dan kemerahan, jelas, tidak begitu jelas. Sebaliknya, terdapat pembengkakan dari kelompok seperti jaringan baru yang padat (terutama berisi sel darah putih dan jaringan fibrosa) dibentuk oleh tubuh.

Demam

Demam adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menyatakan kenaikan panas dan biasanya menyertai infeksi. Kenaikan suhu biasanya disertai oleh penurunan nafsu makan, naiknya pernafasan dan denyut nadi rata-rata, hewan berkeringat dan menggigil.

Morbiditas dan Mortalitas

Istilah ini sering dipergunakan dalam menyatakan akibat dari penyakit dalam kelompok atau kandang. Angka kesakitan (morbiditas) adalah jumlah hewan dalam kelompok atau kandang yang terserang penyakit tetapi yamg tidak mati. Apabila prosentase hewan terserang menjadi besar angka kesakitannya dikatakan tinggi. Angka kematian (mortalitas) adalah jumlah hewan yang mati karena penyakit. Kedua, angka kesakitan dan kematian biasanya dinyatakan dalam prosentase, sebagai contoh 10 hewan terserang dari 100 akan dinyatakan sebesar 10 persen.

Epizootik

Epizootik adalah suatu terminologi yang dipergunakan untuk menyatakan penyakit hewan (seperti rinderpest) yang menyebar secara cepat meliputi daerah luas yang dapat disebut dengan istilah epidemik yaitu untuk menyatakan suatu penyakit yang secara cepat menyebar di antara umat manusia.

Enzootik

Enzootik adalah istilah yang dipergunakan untuk menyatakan suatu penyakit yang secara terus menerus berada dalam populasi hewan tetapi tidak tersebar secara cepat.

Sporadik

Sporadik dipergunakan untuk menyatakan suatu penyakit yang secara tidak normal berada dalam suatu populasi hewan tetapi yang muncul secara mendadak dari waktu ke waktu dan mendadak pula menghilang.

Tanda-tanda Terjadinya Penyakit

Sebelum tanda penyakit muncul, ada suatu periode di mana setelah organisme penyebab penyakit memasuki tubuh hewan, tetapi tanda terjadinya penyakit belum jelas. Ini disebut masa inkubasi yang lamanya tergantung dari karakteristik suatu penyakit. Seekor hewan dalam keadaan sakit akan secepatnya menunjukkan perubahan dalam banyak hal. Perubahan-perubahan ini disebut sebagai gejala (symptom) atau keadaan penyakit.

Diagnosa

Diagnosa suatu penyakit berdasar hasil pengamatan gejala dan perubahan dalam jaringan hewan. Beberapa gejala menciri terhadap penyakit tertentu seperti kejang otot pada tetanus dan kelumpuhan pada milk fever, namun lebih sering suatu penyakit dikenali hanya setelah pengujian secara hati-hati dari hewan setelah post mortem dan pengujian laboratoris dari ulas dan spesimen yang telah dibuat.

Sabtu, 14 April 2018

Sabtu, 14 April 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori



 Itik Alabio dan Manajemen Pemeliharaan

di BPTU-HPT Pelaihari





Usaha budidaya itik terutama itik petelur semakin berkembang, baik untuk telur konsumsi maupun telur tetas. Di Indonesia sendiri dikenal beberapa jenis itik lokal, salah satunya adalah Itik Alabio (Anas Platyrynchos Borneo).  Itik Alabio merupakan jenis itik lokal unggul yang termasuk ke dalam plasma nutfah lokal Kalimantan Selatan dan telah lama dibudidayakan oleh masyarakat setempat, terutama di Kabupatem Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sengai Utara (HSU).  Selain di tempat asalnya, sekarang, itik Alabio sudah banyak dibudidayakan di Pulau Jawa dan Bali. Nama Alabio sendiri berasal dari nama kecamatan dimana itik dipasarkan yaitu Kecamatan Alabio, Amuntai, Provinsi Kalimantan Selatan.
Itik Alabio mempunyai keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan lingkungan. itik Alabio memiliki postur tubuh ramping seperti botol dengan warna bulu itik jantan dewasa yaitu cokelat totol-totol hitam atau putih pada kepala bagian atas; cokelat-abu-abu muda pada bagian punggung dengan ekor warna hitam melengkung ke atas; dada berwarna cokelat putih keabuan; sayap berwarna cokelat kerlip perak hijau kebiruan. Itik betina dewasa memiliki bulu hitam - putih pada kepala bagian atas; cokelat keabuan pada bagian punggung, dada, dan sayap dengan ekor lurus ke belakang.  Adapun warna ceker dan paruh itik alabio yaitu kuning gading tua. Warna kerabang telur itik ini yaitu hijau kebiruan. Bobot badan itik Alabio dewasa jantan dan betina masing-masing berkisar 1.59 – 1.72 kg.  Produksi telurnya berkisar 67.11 – 76.48% atau 220 -250 butir/tahun/ekor dengan puncak produksi telur 92.70%.  Umur dewasa kelamin itik alabio dicapai pada umur 5 – 5.5 bulan dengan lama produksi telur 2.5 – 3 tahun. SNI 7556:2009 menjelaskan persyaratan mengenai bibit induk (parent stock) itik Alabio muda atau ciri-ciri tubuh dapat diamati yang menjadi pembeda dengan bangsa itik lokal lainnya.  Adapun untuk persyaratan tentang bibit induk (perent stock) itik Alabio Meri terdapat pada SNI 7557:2009.
Itik Alabio bisa dikategorikan ke dalam kelompok itik dwiguna, selain dijadikan sebagai itik petelur, baik  untuk produksi telur konsumsi ataupun telur tetas, itik Alabio juga dijadikan sebagai penghasil daging terutama itik pejantan jika nutrisi pakan terpenuhi dengan baik. Usaha budidaya itik Alabio sebagai itik petelur, memiliki potensi yang menggiurkan dengan tingkat produksi telur itik Alabio sendiri cukup bagus yaitu berkisar antara 200-250 butir per tahunnya dengan berat rataan berkisar 70 – 80 gram. Selain itu, pertumbuhan berat badan itik Alabio tergolong cepat.
Secara tradisional, itik Alabio dipelihara di daerah rawa yang banyak terdapat di Kalimantan Selatan dengan sistem pemeliharaan dengan sistem lanting. Pada sistem lanting, diharapkan itik Alabio memperoleh pakan berupa keong air sebagai sumber protein dan pakan tambahan sagu atau dedak sebagai sumber kalori di daerah rawa.
Seiring dengan perkembangan zaman, kini itik Alabio sudah banyak dibudidayakan secara intensif atau dengan dikandangkan dengan pemberian pakan yang lebih diperhatikan. Berbeda dengan pemeliharaan secara tradisional, pemeliharaan itik Alabio secara intensif membutuhkan pakan yang harus diberikan kepada itik secara rutin. Pakan yang diberikan menentukan kualitas produksi telur itik Alabio yang dihasilkan serta keamanan produk asal ternak itik.
Itik Alabio menjadi salah satu komoditi yang dikembangkan di BPTU–HPT Pelaihari.  Di BPTU–HPT Pelaihari, itik Alabio dipelihari pada 4 jenis kandang yaitu kandang lantai, close house, panggung dan baterai.  Kandang lantai setiap kandangnya terdapat 10 petak, sementara di kandang panggung terdapat 10 – 12 petak per kandang dan untuk kandang baterai, setiap petaknya diisi oleh 42 ekor itik dengan perbandingan jantan : betinanya adalah 1 : 6.    



Pakan  yang  diberikan kepada itik  petelur, hendaknya telah terdaftar dan berlabel. Jenis, jumlah pemberiaan dan mutu pakan disesuaikan dengan umur atau periode pertumbuhan itik. Mutu rangsum pakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu SNI 01-3908-1995 untuk Pakan Meri (Duck Starter) dari umur 1 hari sampai dengan 8 minggu; SNI 01-3909-1995 untuk Pakan Itik Petelur Dara (Duck Grower) dari umur 8 minggu sampai dengan 24 minggu; SNI 01-3910-1995 untuk Pakan Itik Petelur (Duck Layer) di atas 24 minggu. 
Di BPTU – HPT Pelaihari, pakan yang diberikan pada itik yaitu pakan komersial lengkap. Pemberian pakan dilakukan pada ember tempat pakan dengan takaran yang telah ditentukan disesuaikan dengan jumlah dan fase pertumbuhan itik.  Tempat pakan diletakkan pada masing-masing petakan dalam kandang. Sementara untuk air minum diberikan secara ad libitum yang diletakkan di bagian luar kandang.



#nurulfadhilahabbas

- Oleh BPTU-HPT Pelaihari
Manajemen Brooding Pada Itik          

Periode starter dimulai itik umur 1-3 hari atau DOD (day old duck) hingga umur 2 bulan. Pemeliharaan anak itik selama periode strarter meliputi beberapa aspek diantaranya:
a. Kebutuhan Ruang
Selain ditentukan jenis itik, kebutuhan ruang untuk anak itik juga ditentukan oleh jenis kelamin dan tujuan pemeliharaaan itik, apakah akan dibudidayakan sebagai itik petelur atau itik pedaging.  Kepadatan populasi di dalam kandang dapat mempengaruhi pertumbuhan itik. Kandang yang terlalu sempit dapat mengakibatkan peningkatan zat karbon dioksida dan menurunkan kadar oksigen di dalam kandang yang dapat menyebabkan pertumbuhan lambat dan rentan terhadap penyakit.
Apabila pemeliharan  itik umur 1 – 21 hari dilakukan di kandang pembesaran, maka cara mengatur kepadatan populasi dilakukan dengan cara luas kandang diperlebar dengan menggeser pagar penyekat sedemikian rupa sehingga luas kandang yang dimaksud sesuai dengan  umur maupun jumlahnya. Apabila anak itik dipelihara di dalam kandang box, dilakukan dengan cara memindahkan sebagian itik ke dalam kandang box lainnya sehingga jumlah anak itik sesuai dengan luas kandang box yang ada.
Kepadatan populasi ternak berdasarkan umur itik adalah sebagai berikut :
Umur itik (mgg)                               kepadatan populasi
0 – 1                                               20 ekor/m2
1 – 2                                                18 ekor/m2
2 – 4                                                15 ekor/m2
4 – 5                                                13 ekor/m2
5 – 6                                                10 ekor/m2
6 – 7                                                  8 ekor/m2
7 – 8                                                  6 ekor/m2
b. Induk Buatan
Induk buatan sangat dibutuhkan itik periode starter, anak itik membutuhkan suhu ruang antara 35°C pada umur 1 minggu dan berangsur-angsur diturunkan hingga 18°C pada umur 4 minggu. Sumber panas untuk menghangati anak itik dapat mengggunakan gasolek, lampu pijar ataupun lampu minyak yang dapat diletakkan di atas induk buatan dengan ketinggian sekitar 45cm dari lantai. Sebelum anak itik dimasukan ke dalam induk buatan, sebaiknya pemanas buatan sudah terlebih dahulu dinyalakan minimal 24 jam sebelummnya.
c. Air minum dan Tempatnya
Itik membutuhkan air minum yang lebih dibandingkan dengan unggas lainnya. Air minum diberikan secara adlibitum agar ketersedian air minum untuk itik selalu tercukupi. Apabila itik kekurangan air minum dapat menyebabkan pertumbuhan itik menjadi lambat. Tempat air minum itik sebaiknya menggunakan tempat minum buatan pabrik yang berbentuk gallon ataupun tempat minuman yang berbentuk memanjang. Ukuran tempat minum itik tergantung dari jumlah anak itik yang dipelihara, untuk 100 ekor anak itik dibutuhkan 3 hingga 4 buah tempat minum berbentuk gallon atau 2 buah pipa paralon masing-masing sepanjang 3 meter. Bertujuan untuk menghidarkan itik dari berbagai penyakit, sebaiknya tempat minuman dibersihkan dan dicuci setiap hari dengan menggunakan deterjen ataupun desinfektan dengan dosis sesuai yang dianjurkan.
Transportasi dari tempat asal DOD ke tempat peternakan seringkali mengakibatkan anak itik mengalami stres. Solusinya adalah setelah anak itik dimasukan ke kandang (induk buatan), anak itik diberikan air minum yang dicampur dengan gula (50 g gula/1 liter air) serta vitamin dan antibiotik pada hari pertama, selanjutnya vitamin dan antibiotik dapat diberikan sampai anak itik berumur 3 hari. Pemberian pakan untuk anak itik dapat dilakukan setelah anak itik meminum campuran gula,vitamin, antibiotik dan air. Biasanya pakan diberikan setelah 3 jam kemudian.
d. Pakan dan Tempatnya
Periode starter, anak itik perlu mendapatkan pakan yang baik dengan kandungan protein kasar 20% dan ME (energi metabolisme) 3000kkal/kg. Disamping kebuthan protein dan energi metabolisme, pakan itik periode starter juga memenuhi nutrisi lain seperti lemak, mineral dan vitamin. Alternatif tempat pakan untuk setiap 100 ekor anak itik antara lain berupa empat buah tempat pakan berbentuk piringan bulat dengan garis tengah sekitar 30 cm atau tiga buah tempat pakan dengan garis tengah sekitar 40 cm atau dapat digunakan tempat pakan memanjang dengan ukuran 5 cm per ekor.
Pakan untuk itik periode starter dapat dibeli di toko pakan ternak. Produk pakan ternak termasuk pakan itik periode starter agar memperhatikan kadar protein, energi metobolisme serta zat-zat lainnya agar sesuai dengan kebutuhan anak itik.
e. Kontrol Berat Badan
Peternak juga perlu memperhatikan bobot badan itik. Penimbangan dilakukan secara acak dengan jumlah kurang lebih 10% dari total populasi.  Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kerangka badan itik dapat terbentuk dengan baik sehingga diharapkan dapat memberikan produksi yang lebih baik, terutama ukuran telur pada saat periode layer (masa bertelur) nanti. Agar berat badan itik seragam, perlu disediakan program seleksi dan manajemen yang meliputi pakan, minum, keswan dan kandang.
f. Seleksi
Periode starter perlu dilakukan seleksi, itik lemah dapat dsingkirkan dan dilakukan pengelompokan itik berdasarkan berat badannya dengan kategori itik kecil, itik sedang dan itik besar. Maksud dari pengelompokan ini agar kemampuan itik untuk berebut pakan sama, selain itu juga memudahkan penghitungan jumlah pakan yang harus diberikan.
g. Pencegahan Penyakit
Penanganan kesehatan itik pada periode starter dilakukan dengan seksama. Minggu pertama pemeliharaan anak itik merupakan masa kritis oleh sebab itu perhatian yang lebih harus diberikan kepada anak itik. Perlu dilakukan pengecekan setiap jam dan memastikan anak itik dalam keadaan yang baik. Ketersediaan air minum, pakan, kandang (induk buatan), pemanas, penerangan kandang serta kebersihan tempat makan dan minum itik menjadi perhatian. Pencegahan penyakit dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan tempat itik dipelihara.
#Sandhyaputra
- Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori
Sekilas Manajemen Perkandangan dan Pakan Itik Petelur


Usaha budidaya itik petelur semakin banyak diminati sebagai alternatif usaha di bidang peternakan unggas. Hal ini dapat disebabkan nilai jual telur itik yang lebih tinggi dari telur ayam, karena dijual butiran. Salah satu kelebihan itik adalah mampu mencerna pakan dengan serat kasar yang lebih dibanding ayam tinggi sehingga harga pakan bisa lebih murah.
Ada beberapa rumpun itik lokal di Indonesia diantaranya adalah itikTegal, Mojosari, Alabio, Bali, Magelang, Cihateup, Bayang, Talang Benih, Turi/Metaram, Damiaking, Pitalah, Rambon, Kerinci, Pegagan, dll. Itik Mojosari dan Alabio dapat dijadikan contoh sebagai itik petelur unggul dan banyak banyak dibudidayakan peternak.
Itik Mojosari awalnya dipelihara di Jawa Timur dan Jawa Tengah kemudian menyebar ke Kalimantan, Sulawesi dan NTT. Itik Alabio merupakan plasma nutfah lokal unggul kalimantan selatan dan telah lama dibudidayakan oleh masyarakat setempat, yang kemudian berkembang ke pulau Jawa dan Bali. Itik Mojosari dan Alabio berperan utama sebagai penghasil telur, baik telur tetas ataupun telur konsumsi. Masa produksi telur rata-rata berlangsung selama 1 tahun (48 minggu), sedangkan jumlah produksinya berkisar antara 200-250 butir per tahun dengan berat telur rata-rata 70 gram. Bahkan, itik Alabio mampu memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu. Apabila masa produksinya telah selesai, itik-itik petelur tersebut dapat segera diafkir dan dijual sebagai itik potong.
Tabel Produktivitas Itik Petelur
Parameter
Itik Mojosari
Itik Alabio
Bobot badan (kg)
1.47 – 1.5
1.47 – 1.5
Puncak produksi telur (%)
68 – 73
68 – 73
Jumlah produksi telur (butir/ekor/tahun)
200 – 250
200 – 250
Bobot telur
60 – 75
60 – 75
Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)
130 – 150
130 – 150
Jika dilihat dari tabel diatas, bisnis budidaya ternak itik petelur memiliki prospek yang cukup menggiurkan, terutama jika dilakukan secara intensif. Sebelum memutuskan untuk beternak itik petelur, sebaiknya memiliki pengetahuan tentang komponen apa saja yang harus diperhatikan dalam menjalankan budidaya itik ini. Komponen tersebut terdiri diantaranya adalah kandang dan pakan.
Kandang Itik Petelur
Kandang merupakan sarana utama dalam pemeliharaan itik petelur. Peternak sebaiknya memperhatikan lokasi kandang yang jauh dari pemukiman agar tidak mengganggu warga sekitar dengan limbah yang dihasilkan. Hal kedua adalah pemilihan lokasi karena berhubungan dengan akses transportasi agar memudahkan peternak untuk pengangkutan pakan dan pemasaran telur hasil panen.
Konstruksi kandang, upayakan peternak memilih bahan kandang yang awet, kuat, dan mampu bertahan ketika musim hujan maupun kemarau. Manajemen air di kandang juga menjadi faktor yang penting karena itik memiliki sifat alamiah bermain dan mandi di air, meskipun itik bisa dibudidayakan secara kering.
Beberapa contoh bentuk kandang itik petelur dengan bahan dan rancangan yang berbeda dapat dijadikan sebagai referensi. Tampak bahwa ketiga bentuk tersebut memiliki pola yang sama yaitu terdiri dari 2 bagian yaitu 1/3 bagian tertutup dan beratap untuk itik tidur dan bertelur dan 2/3 bagian yang terbuka sebagai umbaran untuk itik makan, minum dan bermain pada siang hari. Perbedaan bahan kandang yang dipakai menentukan kemudahan dalam perawatan dan umur pakai dari kandang tersebut. Lantai kandang harus dijaga agar tetap kering dan tidak ada air tergenang.
Pakan
Pemberian pakan itik disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi sesuai dengan tahapan pertumbuhan maupun masa produksinya.  Kebutuhan nutrisi itik tersebut dipenuhi oleh peternak karena ternak itik yang dipelihara secara intensif tergantung sepenuhnya pada pakan yang diberikan oleh peternak. Kebutuhan nutrisi dapat dipenuhi dengan menggunakan kombinasi beberapa bahan pakan dalam menyusun pakan lengkap itik. Jumlah kebutuhan pakan ternak itik petelur dapat dilihat pada tabel dan angka-angka tersebut merupakan perkiraan karena jumlah tepatnya bervariasi tergantung pada jenis itik, kualitas pakan dan ukuran badan itik. 
 Tabel  Kebutuhan pakan itik sesuai tahapan pertumbuhan :
Keterangan
Umur
Kebutuhan Pakan
(gr/ekor/hari)
Anak
(starter)
DOD – 1 minggu
1 – 2 minggu
2 – 3 minggu
3 – 4 minggu
4 – 5 minggu
5 – 6 minggu
6 – 7 minggu
7 – 8 minggu
15
41
67
93
108
115
115
120
Dara
(grower)
8 – 9 minggu
9 – 15 minggu
15 – 20 minggu
130
145
150
Dewasa
(petelur)
>20 minggu
160 – 180

                Saat itik memasuki masa bertelur, sebaiknya tidak terjadi perubahan-perubahan mendadak dalam manajemen pemeliharaan. Perubahan atau gangguan lain akan mudah menyebabkan itik stres dan mengganggu produksi telur, terutama jika terjadi perubahan pakan. Oleh karena itu, catatan produksi telur harian perlu ada untuk mengetahui gambaran kurva produksi telur dalam satu periode dan mengevaluasi jika terjadi fluktuasi produksi.
#yogaatmaja#
Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~