Senin, 25 Juni 2018

Senin, 25 Juni 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori
Brooding adalah masa di mana itik yang berumur 1 hari (DOD/ Day Old Duck) membutuhkan kehangatan dari induknya. Masa ini berlangsung hingga kurang lebih usia 14 hari dan sangat krusial karena akan mempengaruhi produktivitas itik ketika beranjak dewasa. Berikut terdapat beberapa manajemen brooding DOD dengan kandang postal yang baik:

1. Persiapan Kandang Khusus Brooding
Kandang untuk brooding bisa ber-tipe postal maupun tipe panggung (box). Untuk kandang postal, alas kandang dibuat dari sekam yang telah didesinfeksi dengan desinfektan. Kemudian tabur kapur dan tutup sekam dengan koran bekas. Sekam diberi alas koran agar lebih hangat dan DOD tidak memakan sekam. Untuk ukuran kandang, beberapa penelitian menyebutkan untuk usia 1 hari s/d 1 minggu kepadatan 20-25ekor / M2, untuk usia 1 minggu s/d 2 minggu kepadatan 20-18 ekor/M2.
Kondisi kandang yang terlalu padat dapat mempengaruhi pertumbuhan itik. Keadaan kandang yang terlalu sempit akan meningkatkan akumulasi zat karbon dioksida serta penurunan kadar oksigen di dalam kandang yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang lambat serta itik rentan terhadap penyakit hingga mengakibatkan kematian pada anak itik.

2. Persiapan Pemanas Buatan (Heater) Induk Buatan
Pemanas buatan sangat dibutuhkan itik pada periode starter, anak itik membutuhkan suhu ruang antara 35°C pada umur 1 minggu dan berangsur-angsur diturunkan hingga 18°C pada umur 4 minggu. Pemanas buatan dapat mengggunakan gasolek, semawar, maupun lampu pijar ataupun lampu minyak tergantung dari tipe kandang. Sebelum anak itik dimasukan ke dalam induk buatan, sebaiknya pemanas buatan sudah terlebih dahulu dinyalakan mininmal 12 jam sebelummnya.
Untuk mengetahui kondisi panas yang ideal dapat diihat dari sebaran DOD. Apabila DOD terlihat bergerombol di dekat pemanas, maka suhu terlalu rendah. Apabila DOD menjauhi pemanas, maka suhu terlalu tinggi. Itik akan tampak aktif menyebar bila suhu pemanas tepat.

3. Persiapan Air Minum
Itik membutuhkan air minum yang lebih dibandingkan dengan unggas lainnya. Untuk itu air minum diberikan dengan tidak terbatas agar ketersedian air minum untuk itik selalu tercukupi. Tempat air minum itik dapat menggunakan tempat minuman buatan pabrik yang berbentuk gallon ataupun tempat minuman yang berbentuk memanjang. Adapun ukuran tempat minuman itik tergantung dari jumlah anak itik yang dipelihara, untuk 100 ekor anak itik dibutuhkan 3 hingga 4 buah tempat minuman berbentuk gallon.
Untuk DOD yang baru datang hingga usia 3 hari, tambahkan gula (ataupun sejenisnya), vitamin, dan antibiotik pada air minum untuk mengobati stres perjalanan dari itik.

4. Persiapan Pakan
Untuk pakan DOD, setiap 100 ekor anak itik memerlukan empat buah tempat pakan berbentuk piringan bulat dengan garis tengah sekitar 30 cm atau tiga buah tempat pakan dengan garis tengah sekitar 40 cm. Pakan dapat menggunakan pakan konvensional yang dibuat untuk itik starter.
Untuk merangsang DOD makan, pakan dapat disebar sedikit di alas koran. Dengan begitu, itik secara naluri akan memakan makanan yang terhampar dan mencari sumber makanan.

Demikian persiapan yang perlu dilakukan sebelum kedatangan DOD. Pastikan proses brooding berlangsung optimal agar pembentukan sistem imun DOD maksimal dan ternak lebih tahan terhadap penyakit.

- Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori


                       Salah satu jenis komoditas ternak yang dikembangkan di BPTU – HPT Pelaihari adalah itik.  Itik yang dipelihara sendiri terdiri atas 3 jenis yaitu itik Alabio, itik Mojosari dan yang terbaru adalah itik PMp.  Itik alabio bisa dikategorikan ke dalam kelompok itik dwiguna, sementara itik Mojosari merupakan salah satu jenis itik petelur.  Adapun itik PMp merupakan bibit itik pedaging hasil persilangan antara itik Peking dan itik Mojosari Putih yang juga dapat digunakan sebagai itik petelur.  BPTU – HPT Pelaihari selain  menyediakan bibit dari jenis itik tersebut ke masyarakat atau peternak sekitar, juga menyalurkan ke luar Kalimantan Selatan.
                       Sebagai salah satu Balai Pembibitan, jumlah itik yang dipelihara di BPTU – HPT Pelaihari tidaklah sedikit, selai itu adanya tuntutan untuk menghasilkan bibit itik yang berkualitas sehingga yang menjadi salah satu perhatian dalam manajemen pemeliharaan itik tersebut adalah dari segi pakan.  Mengingat pakan sendiri menduduki urutan terbesar dari semua biaya produksi yaitu sekitar 60 - 70%.  Pakan itik yang baik terutama untuk itik petelur adalah ransum yang memenuhi kebutuhan gizi pada pertumbuhan dan perkembangan itik dalam memproduksi petelur.  Tidak salah jika dalam penanganannya, dilakukan upaya – upaya dalam melakukan efisiensi biaya dengan tidak mengurangi kualitas gizi dari pakan yang diberikan. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan pakan alternatif berupa bahan - bahan non konvensional yang murah, bergizi dan memperbaiki pertumbuhan.  Dimana selama ini pakan yang diberikan seluruhnya adalah pakan komersial lengkap.  Salah satu pakan alternatif potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi atau campuran ransum adalah Azolla.
                         Azolla merupakan genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini, salah satu spesiesnya adalah Azolla microphylla. Azolla dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau untuk tanaman. Azolla microphylla merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan dan termasuk tanaman air yang sangat cepat berkembang. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% dari berat massa setiap hari dan bisa bertambah dengan kondisi kesuburan air yang bagus.  Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein yang tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.  Selain itu, berdasarkan berat keringnya, juga mengandung vitamin A, vitamin B12, 10-15% mineral, 7-10% asam amino, serta senyawa bioaktif dan biopolymer. Karena kandungan protein dan vitamin yang tinggi inilah, yang menjadikan azolla sebagai salah sebagai salah satu pakan alternatif potensial yang dapat dilirik untuk kemudian kedepannya dapat benar – benar dikembangkan dalam upaya untuk mengurangi biaya pakan tetapi dengan tetap mempertahankan kualitas gizi dari pakan tersebut.  Selain sebagai pakan itik,  azolla juga dapat dimanfaatkan pakan untuk sapi, kambing dan jenis unggas lainnya.
                         Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 – 3 minggu) dapat dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan literatur bahwa, campuran azolla 15 % ke dalam ransum itik, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik.  Dimana itik tetap mengkonsumsi pakan campuran azolla tersebut dengan lahap.  Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Hal tersebut berarti bahwa penggunaan azolla bisa menekan 15 % biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan bagi peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
                         Pemanfaatan azolla sebagai campuran ransum di BPTU – HPT Pelaihari sendiri belum dikembangkan.  Hanya saja penggunaan azolla belum bisa sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan seluruh populasi itik yang ada, mengingat jumlah itik yang ada terbilang banyak dan lahan untuk budidaya azolla sendiri belum bisa untuk produksi dalam jumlah yang langsung banyak.  Sehingga, sebagai tahap awal bisa dimulai dengan pemberiaan pada salah satu fase dulu, misalnya starter.  Untuk kedepannya bisa dikembangkan lebih jauh lagi.  Selain itu, pemanfaatan Azolla ini juga bisa diterapkan oleh peternak – peternak sekitar dalam upaya menghemat biaya pakan.
                         Azolla (azolla microphylla) banyak terdapat di perairan tenang seperti danau, kolam, rawa dan persawahan.  Sementara, untuk memproduksi azolla microphylla sebagai pakan alternatif itik dapat dilakukan dengan mengembangkannya di kolam-kolam kosong atau membuat kolam tersendiri dari terpal.  Untuk dasar kolam terpal sebagai media sumber nutrisi bagi azolla dapat dibuat campuran tanah dengan pupuk kandang sapi atau kambing dengan ketebalan sekitar 5 cm. Kemudian kolam yang telah diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang diisi dengan air sampai ketinggian 5 - 15 cm.  Atau ditempatkan di kolam tanah sesuai dengan habitatnya di rawa dan sawah.


(Dari berbagai sumber)


Jumat, 22 Juni 2018

Jumat, 22 Juni 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori





                    Radang Paha atau biasa disebut Blackleg merupakan suatu penyakit bersifat akut dan menular yang terjadi pada sapi, domba dan babi, disebabkan oleh bakteri dari genus Clostridium (Clostridium chauvoei) yang diketemukan dalam tanah dan dalam usus dari hewan normal dan yang mungkin menyerang tubuh melalui kerusakan kulit atau selaput lendir. Organisme memproduksi spora yang sangat tahan terhadap kondisi panas dan tahan hidup lama dalam tanah. Mereka berkembang hanya dalam ketiadaan oksigen (anaerob). Sering menyerang pada sapi muda umur 8 - 18 bulan dan domba yang telah dicukur. Penyakit ini tersebar luas di negara tropis. Babi tidak terlalu rentan terserang penyakit ini.

Gejala

                      Hewan pertama kali diketahui pincang, kemudian terbentuk pembengkakan di bagian atas kaki, yang secara cepat meluas dan berkrepitasi dalam rabaan yang disebabkan adanya gas di bawah kulit. Gerakan terbatas karena rasa sakit, nafsu makan sangat berkurang dan perhentian ruminasi, demam sangat tinggi dan meningkatnya ritme pernafasan. Penyakit berkembang cepat dengan gejala seperti mendengkur dan gigi bergeretak. Kematian terjadi mendadak selama 12 - 48 jam setelah kejadian, sering diikuti dengan keluarnya darah dari hidung dan anus.

Diagnosa

                      Apabila dicurigai Radang Paha atau Blackleg, harus dibuat preparat ulas darah dari muskulus yang meradang dan spesimen dikirim dengan segera untuk dilakukan pengujian. Preparat ulas darah secara cepat dapat membedakan penyakit ini dengan Anthrax. Pengujian post mortem tidak perlu dilakukan, tetapi apabila dilakukan pemotongan, otot yang meradang akan terlihat hitam, kering dan berbau seperti mentega tengik.

Pengendalian dan Pencegahan

                      Karkas harus diperlakukan seperti terhadap karkas pada kasus penyakit Anthrax. Dalam kabupaten yang tertular semua sapi dari umur 6 bulan sampai 3 tahun harus divaksin setiap tahun. Domba harus divaksin sebelum pencukuran.

Kamis, 21 Juni 2018

Kamis, 21 Juni 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori






                Penyakit Anthrax merupakan penyakit menular yang bersifat akut dan dapat menyerang setiap hewan berdarah panas begitu juga dengan manusia. Disebabkan oleh bakteri berbentuk basil yang dapat membentuk spora, dapat menular lewat udara dan dapat hidup selama bertahun-tahun di tanah. Penyakit ini dijumpai di seluruh dunia tetapi lebih sering ditemukan di negara tropis. Organisme penyebab penyakit memasuki tubuh melalui luka, terhirup udara atau tertelan. Masa inkubasi berkisar antara 1 - 5 hari.

Gejala

               Pada beberapa kasus, penyakit terjadi secara sangat akut. Hewan dijumpai mati tanpa diketahui mengalami gejala penyakit terlebih dahulu dan dengan adanya perdarahan keluar dari hidung dan anus. Tanda yang paling menciri dari penyakit ini adalah demam tinggi, terjadi mendadak, kesulitan bernafas, hewan sempoyongan, sangat lemah dan kematian terjadi secara cepat. Pada babi dan kuda gejalanya kadang-kadang kurang akut dan terjadi pembengkakan pada bagian tenggorokan. Apabila hewan mati mendadak tanpa tanda penyakit sebelumnya, maka harus dicurigai terhadap anthrax. Dalam hal ini tidak diperkenankan melakukan nekropsi. Preparat ulas darah harus diambil segera setelah kematian terjadi, diambil dari daerah telinga atau ekor untuk menghindari darah mencemari area sekitarnya. Preparat ulas harus dikirim ke BPPH atau B-Vet untuk dilakukan pengujian dengan segera. Apabila karkas dibuka secara tidak sengaja, darah akan berwarna gelap, tidak cepat menggumpal dan berbentuk menyerupai tir. Petugas yang menangani harus sangat hati-hati, pakaian harus dicuci dan direbus secara seksama selama 20 menit sebelum dipakai lagi, karena penyakit ini dapat menyerang manusia.

Pengendalian dan Pencegahan

                  Karkas dari hewan yang mati karena anthrax atau meskipun mati karena menderita penyakit yang menciri pada penyakit ini harus dikubur sedalam 1,8 meter, dilapisi penutup gamping (apabila ada) dan daerah tersebut harus dipagar. Setiap material yang terinfeksi, termasuk tanah dan alas ternak harus dibakar. Setiap hewan rentan harus dijauhkan dari daerah terinfeksi dan dilakukan vaksinasi (dengan vaksin dosis tunggal), kemudian setelah itu hewan harus divaksin setiap tahun untuk sekurang-kurangnya 3 tahun setelah kasus terakhir. Dokter hewan harus segera menerima laporan terhadap kasus yang disangka anthrax. Dalam beberapa hal pengobatan terhadap hewan yang diduga terinfeksi dilakukan menggunakan antibiotik penisilin.
Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~