Selasa, 28 Januari 2014

Selasa, 28 Januari 2014 - Oleh Administrator - Kategori
Sebuah catatan kecil dari Pertemuan Stakeholder Pembibitan Itik Nusantara Mitra BPTU KDI Pelaihari 2013 Minahasa Sulawesi Utara dan mengingat kembali pertemuan sebelumnya.Mendengar Sulawesi Utara, terlintas di benak kita akan keindahan panorama alam bawah lautnya yang kaya akan keanekaragaman hayati dan biota laut, seperti taman laut Bunaken, pulau Lembeh Bitung, pulau Siladen, dll. Dibalik semua itu, Sulawesi Utara juga punya keindahan bentang alam daratnya, dari sekian banyak cerita keindahan bentang alam, pasti akan terucap keindahan danau Tondano. 

Danau Tondano di kabupaten Minahasa merupakan salah satu dari tiga danau terluas yang berada di pulau Sulawesi, dengan luasnya mencapai hingga 42 km2, sejauh mata memandang akan tersaji bentang alam yang indah, danau seakan dikelilingi jajaran pagar hijau pegunungan yang mengapit seperti gunung Lambean, gunung Laweng, gunung Masarang dan gunung Tampusu.

Danau Tandano tidak hanya sekedar danau, tetapi adalah sebuah ruang yang kaya akan aktivitas ekonomi hingga ragam budaya dari masyarakat setempat. Aktivitas pariwisata dan kuliner, aktivitas perikanan, aktivitas pertanian, transportasi, hingga Festival Danau Tondano yang menampilkan seni budaya masyarakat setempat menyatu dalam satu ruang di Danau Tondano.

Dari sekian banyak aktivitas disana, Danau Tondano adalah rumah bagi ribuan ternak itik yang berenang, bertelur, dan berkembang biak dengan bebas, danau Tondano menjadi tempat dari ratusan peternak itik dalam menggembalakan itik dan menggantungkan perekonomian keluarga. Itik di danau Tondano memiliki sejarah panjang, campuran dari berbagai macam itik yang didatangkan dari Pulau Jawa Kalimantan dan sekitarnya. Danau Tondano tidak memiliki itik khusus lokal, semuanya adalah perpaduan dari berbagai macam itik. Ribuan itik yang menyatu di danau Tondano, terdapat sekelompok besar itik PS Mojosari, PS Alabio, dan Itik FS MA Raja dan FS MA Ratu, produk unggulan dari BPTU KDI Pelaihari Kalimantan Selatan, yang didatangkan dan dikembangkan oleh kelompok Ternak Tougela yang diketuai oleh Ibu Sylvani Karwur.

Itik PS Mojosari dan Alabio yang didatangkan oleh kelompok Ternak Tougela dan kemudian dikembangkan untuk menghasilkan itik FS MA Raja dan FS MA Ratu, ternyata menunjukan adaptasi lingkungan dan performans yang luar biasa. Itik yang semula adalah itik dengan sistem pemeliharaan intensif dan dikandangkan kering secara penuh, dikondisikan oleh kelompok ternak Tougela menjadi itik yang 24 jam masa hidupnya berada di danau, tanpa kandang permanen hanya berupa jaring pembatas, makan mencari sendiri di sekitar danau, diberi pakan tambahan berupa keong danau (renga) dan biji jagung utuh, dan bertelur diatas gundukan enceng gondok atau tanah endapan, namun performans yang ditunjukan luar biasa, melebihi performans itik dengan sistem pemeliharaan intensif.

Fenomena adaptasi itik produk BPTU KDI Pelaihari yang luar biasa, semangat dan optimisme Ibu Sylvanni Karwur selaku Ketua Kelompok Tougela dan anggotanya, dan dukungan dari Pemerintah Daerah setempat, mendorong Pertemuan Stakeholder Pembibitan Itik Nusantara Mitra BPTU KDI Pelaihari 2013 dilaksanakan di Minahasa Sulawesi Utara bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara.

Selama beberapa bulan panitia BPTU KDI Pelaihari berkerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara mempersiapkan semua aspek terkait konsultasi, koordinasi, persiapan teknis, anggaran, sumber daya, sarana prasarana, dll sehingga acara pertemuan stakeholder pembibitan Itik Nusantara Mitra BPTU KDI Pelaihari 2013 dapat terlaksana pada tanggal 21-23 Juni 2013.
Pada tanggal 17 Juni 2013 seluruh Panitia BPTU KDI yang berjumlah 13 orang bertolak ke Manado, mendarat dengan selamat di bumi Kawanua Sulawesi Utara pukul 17.00 WITA. Hal yang menarik terpampang di bandara Sam Ratulangi adalah tulisan besar Si Tou Timou Tumou Tou, yang menurut informasi adalah filsafat hidup masyarakat Sulawesi Utara yang dipopulerkan oleh Pahlawan Nasional Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain" atau "Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain, falsafah yang masih relewan di jaman sekarang ini.

Perjalanan dari kota Manado ke danau Tondano membawa cerita tersendiri; jalan sempit yang berliku, mendaki dan menuruni gunung, menghampar lembah kota Manado yang langsung terhubung ke teluk Manado. Perjalanan kurang lebih 30 km ditempuh dalam waktu 1 jam. Perjalanan ke Danau Tondano melewati kota Tomohon yang terkenal sebagai kota bunga dan secara rutin diselenggarakan festival bunga Tomohon yang bertaraf internasional , kota Tomohon juga terkenal dengan kuliner ekstrimnya.
Sesampainya di danau Tondano, Panitia BPTU KDI Pelaihari bahu membahu dengan pegawai Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, pegawai Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Minahasa, dan anggota kelompok ternak Tougela menyiapkan semua keperluan acara. Panitia BPTU KDI Pelaihari dibagi dua, 1 tim mengambil tempat di vila nan indah milik Ibu Marisa yang ramah, dan 1 tim bertempat di Hotel Sedona Manado, Jalan Raya Tanawangko, Desa Tateli, Kec. Mandolang Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara melayani tamu undangan yang menginap.

Pertemuan Stakeholder Pembibitan Itik Nusantara mitra BPTU KDI Pelaihari Pertemuan yang dihadiri oleh Direktur Perbibitan, Ir. Abubakar, SE MM yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, Ir. J. H. Panelewen, MSi, yang mewakili Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Minahasa yang mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Minahasa, unsur Muspida kabupaten Minahasa, Kepala Dinas Peternakan atau yang membidangi fungsi peternakan Provinsi, Kabupaten/Kota atau yang mewakili, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat dan Daerah, Pakar perunggasan dari Perguruan Tinggi dan Badan Litbang, Pembibit Mitra BPTU KDI Pelaihari, Asosiasi perunggasan, Peternak dan pembibit Itik di Provinsi Sulawesi Utara dan tamu undangan lainnnya.

Pertemuan dibuka dengan alunan musik bambu klarinet menyambut tamu yang datang di Minahasa, dilanjutkan dengan menyanyikan dengan kidmat lagu Indonesia Raya. 

Laporan Panitia
Ir Tohir, MSi selaku kepala BPTU KDI meyampaikan laporan Panitia, dengan intisari laporan:
Pembibit itik yang telah terbentuk dan terjalin kemitraan dengan BPTU KDI Pelaihari:
1. Pembibit mitra Yayasan Ie Mata di Lamyong NAD
2. Pembibit mitra Farm Sukaraja di Medan Sumatera Utara
3. Pembibit mitra Koperasi Serba Usaha Bina Mandiri di Pekanbaru Riau
4. Pembibit mitra PT Multi Unggul Sejahtera di Karawang Jawa Barat
5. Pembibit mitra Farm Raja Itik di Bogor Jawa Barat,
6. Pembibit mitra Kelompok Ternak Mekarsari di Banyuwangi Jawa Timur
7. Pembibit mitra UPTD Perbibitan Ternak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat,
8. Pembibit mitra UD Melzia di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat
9. Pembibit mitra Kelompok Ternak Harmoni di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat,
10. Pembibit mitra Kelompok Ternak Tougela di Minahasa Sulawesi Utara,
11. Pembibit mitra UPTD Pengembangan Bibit dan Pakan Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara,
12. Pembibit mitra LSM Gerakan Sidrap Membangun di Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.

BPTU KDI mengundang berbagai pihak dalam pertemuan tersebut seperti Balai Penyelidikan Penyakit Veteriner Banjarbaru dan Balai Karantina Pertanian Banjarmasin yang telah menjalin komitmen bersama untuk menjamin keamanan produk dan kelancaran distribusi bibit BPTU KDI Pelaihari dari aspek kesehatan hewan. Balai Penyelidikan Veteriner Subang dan Balai Besar Veteriner Maros dan Jogjakarta diharapkan mendukung pembibit mitra BPTU KDI diwilayah kerja masing sebagai lokasi surveilans. Perguruan tinggi dan Badan Litbang seperti UGM, IPB, UNSRAT dan Balitnak yang mempunyai kepakaran dalam bidang pembibitan dan budidaya itik. Organisasi perunggasan seperti Himpuli yang hadir pada hari ini diharapkan memberikan sumbangsih dalam pengorganisasian secara mandiri dan komersial para pembibit mitra. Unit Pelaksana Teknis lingkup Kementerian Pertanian di Sulawesi Utara, UPTD tingkat Provinsi dan kabupaten kota di Sulawesi Utara dan peternak pembibit dan budidaya ternak itik Sulawesi Utara yang hadir pada hari ini, diharapkan dapat bekerjasama sesuai bidang masing dalam memajukan ternak itik di Sulawesi Utara.
Tumbuhnya pembibit itik menjadi pembibit modern yang berbekal ilmu, inovasi, dan teknologi pembibitan maju, yang saling terhubung dalam jaringan kerja organisasi mandiri dan solid dengan pembibit di kawasan lain dan dibina oleh instansi pemerintah pusat dan daerah yang fokus terhadap pembibitan itik disampaikan oleh Kepala Balai BPTU KDI sebagai tujuan dari pertemuan ini.

Sambutan dan pembukaan Gubernur Sulawesi Utara
Sambutan dan pembukaan Gubernur Sulawesi Utara disampaikan oleh Ir. J. H. Panelewen, MSi., dengan isi sebagai berikut:
1). Sektor pertanian sangat penting dalam perekonomian masyarakat di Sulawesi Utara karena disamping sebagai penghasil devisa dan pendapatan daerah, sektor pertanian termasuk sub sektor peternakan merupakan ladang bisnis, lapangan kerja terbesar, penghasil sumber bahan pangan yang sangat menentukan kualitas sumberdaya manusia terutama dalam penyediaan protein hewani.

2) Penduduk Sulawesi Utara pada tahun 2012 berjumlah kurang lebih 2,3 juta jiwa dan membutuhkan daging setiap tahunnya sebanyak 9,88 kg/kap/tahun atau 22.021 ton, namun yang dipenuhi dari daging unggas baru 1,5 kg/kap/tahun atau 3.450 ton, sedangkan konsumsi telur 4,36 kg/kap/tahun, kondisi ini merupakan peluang untuk pengembangan agribisnis unggas di Sulawesi Utara.

3) Ternak itik merupakan salah satu komoditi penyedia protein hewani selain itu juga memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber pendapatan keluarga walaupun populasinya belum terlalu banyak yaitu 116.103 ekor dimana jumlah ini masih jauh jika dibandingkan dengan populasi ayam ras pedaging yang berjumlah 1.634.823 ekor, ayam ras petelur yang berjumlah 1.022.065 ekor dan ayam lokal 2.256.101 ekor.

4) Ternak itik merupakan sumberdaya lokal Sulawesi Utara dimana sebagian besar dipelihara secara tradisional turun temurun di pedesaan dan menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, salah satu contoh di daerah pesisir danau tondano ternak itik digembalakan dengan mengikuti pola usaha tani terutama padi dengan pakan tambahan berupa keong (renga) yang cukup banyak tersedia di danau tondano dan pemeliharaan semi intensif juga telah mulai diusahakan di kelompok-kelompok lainnya.

5. Salah satu hambatan untuk pengembangan ternak itik adalah dalam hal penyediaan bibit yang berkualitas, namun dengan kerja sama baik sejak tahun 2006 antara BPTU-KDI Pelaihari dengan kelompok tani Tougela sebagai kelompok pembibitan, diharapkan menjadi pengembangan ternak itik unggul di Sulawesi Utara dan untuk memenuhi permintaan pasar dari luar daerah.

6)  Masih diperlukan peningkatan manajemen pembibitan yang baik dan memenuhi standard mutu pembibitan dengan kearifan lokal wilayah danau tondano, sehingga bimbingan dan pendampingan yang intensif dari berbagai stakeholder peritikan sangat diharapkan, salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah mulai menurunnya jumlah pakan tambahan berupa keong (renga) karena keong ini juga dikonsumsi manusia sehingga perlu diupayakan pakan alternatif pengganti renga agar produksi telurnya tetap stabil.

7) Dengan makin bertumbuhnya kelompok pembibitan itik akan dapat memenuhi kebutuhan daging dan telur di Sulawesi Utara dan saya yakin keberhasilan lewat kerja sama yang telah dicapai selama ini antara BPTU-KDI Pelaihari dengan kelompok peternak tidak hanya terjadi di provinsi sulawesi utara, tetapi juga terjadi di provinsi-provinsi lainnya.

Mengakhiri sambutan ini, kami mengharapkan agar “Pertemuan Stakeholder Pembibitan Itik Nusantara Mitra Balai Pembibitan Ternak Unggul Kambing, Domba Dan Itik (BPTU-KDI) Pelaihari “dirangkaikan dengan hari itik” di kabupaten minahasa ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan kinerja semua stakeholder peternakan dimana diharapkan hasil akhirnya adalah meningkatnya kesejahteraan peternak dan masyarakat pada umumnya.

Dan dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, dibuka dengan resmi acara “Pertemuan Stakeholder Pembibitan Itik Nusantara Mitra Balai Pembibitan Ternak Unggul Kambing, Domba dan Itik (BPTU-KDI) Pelaihari, Dirangkaikan dengan Hari Itik” di Kabupaten Minahasa Tahun 2013 Arahan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dalam kesempatan yang membahagiakan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Direktur Perbibitan menyampaikan permohonaan maap kepada seluruh tamu undangan karena tidak bisa hadir karena ada tugas mendadak.
Dirjen PKH menyampaikan dalam sambutannya produksi daging secara nasional sebesar 2.690.900 ton, dimana sebesar 1.797.500 ton (66,8%) berasal dari sumbangan daging unggas, sedangkan itik baru memberikan konstribusi sebesar 30.800 ton (1,71%) terhadap pemenuhan seluruh daging unggas.
Produksi telur secara nasional sebesar 1.540.800 ton, itik memberikan konstribusi sebesar 276.200 ton (17,93%) terhadap produksi telur secara nasional (Statistik Ditjennakeswan 2012).

Indonesia kaya akan Sumber Daya Genetik, salah satunya unggas lokal yaitu ayam dan itik. Populasi ayam lokal sekitar 285 juta ekor dan itik sebanyak 47 juta ekor, yang terdiri dari kurang lebih 22 rumpun itik. Sejak tahun 2010 pemerintah telah menetapkan 43 rumpun atau galur ternak, termasuk 17 rumpun unggas lokal yang sudah ditetapkan sebagai rumpun Indonesia (7 rumpun ayam dan 10 rumpun itik). Rumpun ayam yang telah ditetapkan yaitu ayam Kokok Balenggek, ayam Pelung, ayam Gaga, ayam Kedu, ayam Nunukan, ayam Merawang dan ayam Sentul dan 10 rumpun itik, yaitu itik Pitalah, itik Tegal, itik Alabio, itik Talang Benih, itik Kerinci, itik Mojosari, itik Bayang, itik Rambon, itik Pegagan, dan itik Magelang. 

Langkah pertama dalam mengatasi ketimpangan produksi dan permintaan nasional akan DOD, daging dan telur itik adalah pemenuhan akan kekurangan permintaan DOD berkualitas. Produksi DOD berkualitas dapat dilaksanakan secara on-farm di UPT pembibitan dan out-farm di pembibit itik pada kawasan sumber bibit yang dikelola oleh swasta dan peternak rakyat.. Dukungan sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pembibitan itik, dukungan anggaran pemerintah, instansi penelitian dan perguruan tinggi, dukungan manajemen organisasi dan sarana prasarana pembibitan yang baik dan lain-lain menjadi input untuk keberhasilan produksi DOD berkualitas.

Satu hal yang kedepannya perlu dikembangkan oleh UPT pembibitan adalah melibatkan masyarakat peternak itik di kawasan sumber bibit dalam pembibitan out-farm.. Inovasi, ilmu dan teknologi pembibitan itik modern harus ditransferkan kepada masyarakat peternak, disamping penyebaran dari bibit berkualitas produksi on-farm.

Pihak yang terlibat dalam mendorong pembibitan itik out-farm di kawasan sumber bibit meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, UPT pembibitan pusat dan daerah, asosiasi peternakan dan organisasi lain yang terkait.

Pemerintah pusat yang mempunyai kewenangan dalam kebijakan pembibitan itik secara nasional yang mendukung perkembangan pembibitan itik di masyarakat. Untuk aspek budidaya, Pemerintah Daerah yang mempunyai kewenangan membina peternak itik, membuka peluang pasar, serta penyediaan sarana pendukung, dll.

Lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang mempunyai kepakaran dalam bidang pembibitan mendapat tantangan untuk menciptakan inovasi, ilmu dan teknologi pembibitan yang lebih maju, sehingga dapat menghasilkan jenis itik baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan tahan penyakit dengan tidak meninggalkan kelestarian itik lokal Indonesia.

Organisasi perunggasan merupakan wadah bagi para pembibit itik di setiap kawasan sumber bibit untuk membangun jaringan kerja yang solid dan sebagai sarana untuk bertukar informasi usaha, permodalan, perkembangan produksi dan pemasaran bibit, dll.

Organisasi lain yang terkait diantaranya adalah perbankan dan usaha perkreditan yang memberikan bantuan permodalan yang mendukung pertumbuhan pembibitan itik. Media masa dapat berfungsi dalam menyebarkan dan mempromosikan produksi bibit dari para pembibit itik di kawasan sumber bibit. Industri pakan dan sarana produksi peternakan unggas yang ada dapat berperan dalam menunjang bagi ketersediaan produk dan harganya.

Semakin tumbuhnya para pembibit itik di setiap kawasan sumber bibit menjadi pembibit modern yang berbekal ilmu, inovasi, dan teknologi. Pembibitan maju yang saling terhubung dalam jaringan kerja organisasi mandiri dan solid dengan pembibit di kawasan lain perlu dibina oleh instansi pemerintah pusat dan daerah yang fokus terhadap pembibitan itik merupakan harapan kedepan yang perlu diwujudkan
Success Story Pembibit Mitra BPTU, Disampaikan oleh Ibu Sylvany Karwur Ketua Kelompok Tougela yang telah menjadi mitra BPTU KDI Pelaihari sejak tahun 2008.

Pada tahun 1997 Ibu Sylvany Karwur mulai beternak itik 6 ekor, melihat hasilnya baik, kemudian berkembang menjadi 36 ekor dan seterusnya 300 ekor. Hasil beternak itik dapat memenuhi kebutuhan sehari hari dengan menjual telur itik, sehingga ternak itik menjadi tumpuan usaha.

Pada tanggal 31 Agustus 1997 berkumpul para peternak itik dari berbagai kecamatan di Tougela dan terbentuklah kelompok Tani Tougela dengan jumlah anggota 33 orang. Kami mengadakan pertemuan setiap minggu untuk membicarakan peningkatan usaha kelompok. Secara resmi kelompok ternak Tougela telah dikukuhkan pada hari Kamis, 9 Februari 2006.

Pada tahun 2006 kami mulai memperkenalkan usaha ternak kelompok pada Pemerintah Daerah melalui Ibu.Ir. Heny Kambey,M.Si selaku Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, maka mulailah kelompok kami senantiasa memperoleh pembinaan dari pemerintah.
Sampai dengan saat ini populasi ternak yang dimiliki adalah sebagai berikut:
• PS Alabio dan Mojosari sebagai induk dengan umur 2-3 tahun sejumlah 500 ekor, 
   bertelur 325-415 butir telur tetas/hari
• PS Alabio dan Mojosari sebagai induk umur dengan umur 1-2 tahun 
   sejumlah 650 ekor bertelur 380-510 butir telur tetas/hari
• Itik Peking sejumlah 60 ekor bertelur 52 butir telur tetas/hari
• MA Ratu dengan umur 6 bulan 300 ekor baru mulai bertelur
• Itik MA Raja dan Ratu dengan umur 2-3 minggu sejumlah 1.500 ekor
• Itik lokal sejumlah 350 ekor dengan produksi telur 251 butir telur/hari
• Kandang penetasan dengan luas 6 X 18 meter
• Mesin tetas kapasitas 3.500 butir

Itik yang ada di dalam kandang Tougela adalah mewakili kelompok yang menjadi mitra kami antara lain:
• Kelompok Tani Karya Nyata (Kelompok pemeliharaan dan pembesaran)
Sistem pemeliharaan anak itik pada umur tiga minggu sudah dilepas atau diumbar di sawah, dalam rangka penghematan pakan selama 4 bulan. Itik yang berumur 3 minggu sampai 1 bulan sejumlah 1.850 ekor, itik yang sudah bertelur sejumlah 700 ekor, dengan produksi 450 butir/hari, mesin tetas kapasitas 4.000 butir telur.
• Kelompok Tani Tabelang ( Kelompok Biak dan Jagung)
Memiliki 300 ekor MA Ratu dan mesin tetas kapasitas 4.500 butir.
• Kelompok Ternak Beringin (Kelompok Peking dan Daging) Mesin tetas kapasitas 1.000 ekor, populasi 100 ekor
Kemudian kunjungan – kunjungan yang pernah ke Kelompok Tougela antara lain:
• Tanggal 3 Mei 2007, medapat kunjungan dari Bapak Djayadi Gunawan
• Tanggal 8 Juni 2007, mendapatkan kunjungan dari Bapak Syamsul Bahri, dan mendapat bantuan itik MA Raja dan ratu 500 ekor, dengan jumlah ratu 198 ekor. Pada tahun 2008 bertelur 184 butir selama 8 bulan kemudian turun menjadi 168 butir, ternyata itik ratu tersebut tetap bertelur baik sampai umur 3 tahun.
Pada tahun 2008 mulai memulai memesan bibit PS Alabio dan Mojosari dari BPTU KDI Pelaihari atas saran dan motivasi dari Ibu Ir.Heny Kambey. Tahun 2008 mulai mengenalkan MA Ratu kepada para peternak itik di sekitar Tondano. Pada awalnya mengalami kesulitan karena Itik Ratu masih dianggap sebagi itik baru dan belum dikenal, namun saat ini kelompok justru kewalahan untuk memenuhi pemesanan Itik MA Ratu.
Peternak itik di kabupaten Minahasa setelah mempelajari karakteristik itik MA Raja dan Ratu dengan cara praktek lapangan (diumbar di lahan pertanian dan cara intensif) memberikan hasil sangat memuaskan. Itik MA raja umur 3 bulan sudah siap potong sedangkan MA ratu sebagai itik petelur hasilnya sangat memuaskan juga. Sesuai dengan hasil pengalaman, MA Ratu dengan pemeliharaan semi intensif memberikan hasil sangat baik, dimana itik hanya dikandangkan pada malam hari dan pagi harinya dilepas. Hal ini dilakukan kerena ketersediaan makanan cukup melimpah (kerang/renga) di Danau Tondano, sehingga sangat mengurangi biaya pembelian pakan.

Pada tahun 2011 para peternak itik lokal mulai beralih ke itik MA Raja dan MA Ratu untuk memperoleh hasil yang lebih baik, dan pada tahun 2013 semua peternak yang ada di lapangan sudah mengenal dan menyukai itik MA Raja dan MA Ratu.Kendala yang masih dihadapi dalam rangka mengembangkan dan membangun jaringan antar mitra BPTU KDI adalah adanya kebijakan pemerintah daerah lain yang masih melarang keluar atau masuknya itik ke daerah tertentu, seperti contoh kelompok pernah menerima pesanan dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat, namun tidak bisa dipenuhi akibat larangan tersebut. Kita harus membentuk jaringan antar daerah sebagai salah satu solusi apabila terjadi produksi itik yang berlebih di satu daerah dan di daerah lain kekurangan stok untuk memenuhi pesanan.

Selain itu, kelompok mengharapkan pemerintah pusat maupun daerah untuk bersama - sama dan saling mendukung perkembangan itik Nusantara, agar benar benar dapat terwujud cita-cita besar kita semuanya menjadikan itik lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri seperti yang telah sama – sama kita bikin komitmen pada pertemuan stakeholder tahun lalu.

Untuk hasil yang memuaskan, direkomendasikan kepada seluruh peternak itik di Indonesia untuk mengembangkan itik Final Stok MA Raja dan MA Ratu.

Penandatanganan Nota Kesepahaman
Pada kesempatan tersebut dilaksanan penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul Kambing Domba dan Itik yang selanjutnya disebut Pihak Pertama dengan Pembibit Mitra, yang selanjutnya disebut Pihak Kedua
Isi dari nota kesepahaman sebagai berikut:
PARA PIHAK telah bersepakat melaksanakan Nota Kesepahaman kerjasama pembibitan itik nusantara yang berdasarkan prinsip kemitraan dan saling menguntungkan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Pihak Pertama dan Pihak Kedua dengan komitmen tinggi melaksanakan kegiatan pembibitan 
     terhadap itik nusantara dan menjaga kelestarian itik nusantara
2) Pihak Pertama menyediakan bibit Parent Stock kepada Pihak Kedua dengan sistem jual beli
     sesuai aturan berlaku
3) Pihak Kedua mengembangkan bibit Parent Stock untuk menghasilkan Final Stock secara mandiri
4) Pihak Pertama memberikan bimbingan teknis pembibitan kepada Pihak Kedua, dan 
    Pihak Kedua berkomitmen untuk melaksanakannya dengan baik.
5) Pihak Kedua secara berkala memberikan laporan perkembangan ternak dan kegiatan 
     pembibitan itik Parent Stock kepada Pihak Pertama

Dialog
Dialog dipandu oleh Ir. J. H. Panelewen, MSi selaku moderator dialog, dengan narasumber Direktur Perbibitan, Ir. Abubakar, SE MM yang didampingi Kepala UPT Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Sesi Satu
 Pertanyan:
Satri Rasyid (Pembibit mitra Sidrap Sulawesi Selatan)
• Terkait dengan adanya pelarangan lalu lintas keluar masuk itik di Sulsel mohon dibantu solusinya
• Dilaksanakan kerjasama antar Mitra BPTU KDI terkait dengan pemenuhan bibit
• Berapa target BPTU KDI Pelaihari akan membentuk mitra karena kalau terlalu banyak mitra
   bisa saling membunuh, apabila terlalu banyak Mitra akan kesulitan dalam pemasaran DOD nya
   
Ahmad subli, UD Melzia NTB
• Harapan pada pertemuan itik, jangan sekedar seremonial saja tetapi ada semacam tekanan kepada pemerintah daerah untuk membuka masuk dan keluar itik, karena itik nusantara semestinya bebas lalu lintas senusantara. • Harus ada kerjasama bisnis yang difasilitasi oleh pemerintah dalam konsep bisnis.
Bambang Mamonto, dari Kab. Bolaang Mongondow Timur.
• Kesempatan ini saya gunakan sebaik baiknya, pernah kami datangkan itik kepada kelompok 
   ternak yang ada di tempat kami dan ternyata berkembang
• Kami kesulitan dalam bantuan pembibitan, mohon kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi 
   untuk dapat diberikan bantuan bibit di daerah Bolaang Mongondow Timur supaya peternakan itik 
   dapat berkembang lebih baik lagi.

Tanggapan:
Tanggapan Direktur Perbibitan, yang didampingi Empat Kepala Balai (Balitvet Maros, BPPV Subang, BPPV Banjarbaru, BPTU KDI Pelaihari)Terkait dengan permintaan pak Rasyid dari Sidrap, menjadi catatan untuk pemerintah Pusat dalam membatasi penyebarannya virus AI. Bisa dipahami permasalahan peternak yang dari Sulawesi Utara harus ke Maros Sulawesi Selatan untuk melakukan pengujian PCR dan harus ada kebijakan dan pembicaraan ditingkat Dirjen untuk membuka pelarangan tersebut , sehingga nanti apakah dalam bentuk SK Dirjen atau SK Menteri. Pemesanan yang tidak bisa dipenuhi oleh BPTU maka harus di alihkan kepada Pembibit mitra. Permasalahan di NTB juga sama, karena ada SK Gubernur yang membatasi lalu lintas ternak itik. Pemerintah pusat ada pakar pembibitan, budidaya, kesehatan hewan dll nanti dicoba di fasilitasi agar masalah ini bisa segera di atasi. 

Tanggapan Kepala BBVET MAROS,
Disampaikan sejarah tentang larangan keluar masuk itik di Sulsel, pada saat terjadi wabah flu burung pada itik, yang berdampak pada hampir seluruh pulau Jawa, Direktur Jenderal PKH mengeluarkan surat edaran yang intinya membatasi itik yang diambil dari pulau Jawa, kalaupun boleh maka harus dilakukan uji PCR, sebagai jaminan bahwa sumber bibit itik pada suatu daerah tersebut telah bebas dari AI dengan menerbitkan sertifikat.
Yang paling sulit sebenarnya adalah provinsi yang akan menerima bibit itik, harus diberi jaminan bebas dari penyakit. Kabupaten Sidrap melalui kerjasama dengan BBVET Maros dengan Dinas Peternakan setempat melakukan investigasi untuk mengetahui bahwa kelompok itik Bapak aman dan diterbitkan surat penjaminan dari dinas peternakan, hal tersebut yang paling relevan yang dapat dilakukan.
Kelompok mitra di Minahasa dan sekitarnya, ke depan kami akan merancang kegiatan yang terkait dengan perlakuan biosecurity, terutama dalam pembimbingan teknis di sini.

Tanggapan Kepala BPTU KDI Pelaihari
Saran menjadi pertimbangan dalam membentuk mitra pembibit, BPTU akan membuka sebanyak banyaknya pembibit mitra, karena Tupoksi kami seluruh Indonesia, jangan kuatir akan kekurangan pesanan karena pesanan kita masih terlalu banyak dan belum bisa memenuhi. 

Sesi Dua
Pertanyaaan HIMPULI Kewajiban uji PCR menyulitkan bagi peternak kecil, disamping biaya mahal, sering Dinas Peternakan tujuan meminta dokumen hasil uji asli, sehingga menyulitkan kami mengirim DOD/DOC ke wilayah lain. Apakah uji PCR pada induk itu tidak cukup, apakah harus dilakukan uji PCR pada DOD/DOC yang dikirim, kami melakukan pengujian secara berkala.

Tanggapan Direktur Perbibitan
Sudah baca artikel tentang hal tersebut di kompas. Harganya DOC menjadi sangat mahal apabila ditambah biaya uji PCR

Tanggapan Kepala BBVET Maros
Ada kegiatan kompartemenisasi kesehatan hewan, wilayah yang sudah termasuk kompartemen bebas AI, cukup dengan surat keterangan bebas. Wilayah bisa mengajukan permohonan kepada Dirjennakeswan, untuk melakukan pengujian kompartemenisasi, mulai dari Induk sampai DOD nya bebas dari virus AI.

Kunjungan Lapangan
Dibelakang panggung utama disediakan tempat pameran berupa petak-petak kolam sepanjang jalan air menuju danau Tondano. Petak-petak kolam ini berisi itik PS Alabio Mojosari, itik MA Raja dan MA Ratu, dan itik lokal sekitar. Pengunjung dapat menikmati tingkah laku itik yang dipamerkan menggunakan perahu perahu yang disediakan oleh kelompok Ternak Tougela atau berjalan kaki menyusuri pematang jalan air. Memberikan kebahagiaan tersendiri melihat aktivitas dan kelincahan itik yang leluasa hidup di danau Tondano, seiring dengan kegembiraan peternak itik di sekitar Minahasa menyambut tamu yang datang dan terselenggaranya pertemuan di hari itu.

Pertemuan sudah usai, semua tamu undangan kembali ke daerah masing-masing, membawa harapan dan semangat di bidangnya masing-masing untuk memajukan pembibitan itik. Ternak itik bersama dengan peternaknya menyatu dalam ruang ekosistem di danau Tondano semakin tumbuh dan berkembang mengisi setiap jengkal danau dengan budidaya dan pembibitan itik.

Terlintas di benak, mungkin akan sampai di suatu waktu ketika istilah “4 B” yang melekat dalam memori setiap orang yang berkunjung ke Manado seperti; Bunaken, dunia bawah lautnya yang menakjubkan dan kaya akan keanekaragaman hayati dan biota laut. Bubur, bubur tinutuan khas manado yang memanjakan lidah penyantapnya dengan campuran berbagai sayur mayur segar seperti labu, bayam, kangkung, kemangi, gedhi, jagung, diisantap bersama sambal khas bakasang atau sambal rica roa gurih. Boulevard, Jalan tepat di bibir pantai Manado sebagai pusat kegiatan ekonomi, wisata kuliner, dll Bibir, bibir merona masyarakat Manado yang selalu tersenyum, menginsyaatkan kesupelan dan keramah tamahan warga Manado kepada setiap orang berkunjung.

Akan berubah menjadi “5 B” dengan penambahan kata Bebek, ternak bebek dengan segala produk olahannya akan menjadi ikon baru yang bisa dikenang siapapun yang berkunjung ke bumi Tinutuan ini
Semoga…

Catatan tahun lalu….
PERTEMUAN STAKEHOLDER PEMBIBITAN ITIK LOKAL MITRA BPTU KDI PELAIHARI TAHUN 2012 DI BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN
Pertemuan yang diselenggarakan di Hotel Grand Mentari Banjarmasin tanggal 11-12 Mei 2012 mengambil tema menjadikan itik lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Narasumber utama pada pertemuan tersebut adalah Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA dan Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Plt. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan H Arsyadi.

Peserta yang hadir adalah Pemerintah Pusat yang diwakili oleh Ditjen PKH, Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Dinas Peternakan Provinsi dan Kabupaten, Pakar dan Akademisi peternakan dari Perguruan Tinggi UGM, IPB, Unlam dan Balai Penelitian Ternak, Asosiasi Himpunan Pengusaha Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), dan pembibit itik mitra BPTU KDI yang tersebar di Aceh, Sumut, Jabar, Kalbar, Kalsel, NTB, Sulsel dan Sulut.

Rangkaian acara diwali dengan pembukaan dan laporan panitia yang disampaikan oleh Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul Kambing Domba dan Itik (BPTU KDI) Pelaihari drh. Putut Budiono yang menyampaikan bahwa pertemuan hari ini dalam rangka untuk mengoptimalkan sumber daya itik lokal dan koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat dengan seluruh stakeholder pembibit itik mitra BPTU yang tersebar di berbagai wilayah.

Direktur Jenderal PKH dalam sambutannya menekankan untuk mengangkat harkat dari perunggasan itik lokal dengan merubah istilah itik lokal menjadi itik nusantara sehingga lebih bersifat nasional dan menjadi kekayaan sumber daya ternak kita. Dirjen PKH memunculkan harapan pertemuan ini akan menumbuhkan para pembibit itik di setiap kawasan sumber bibit menjadi pembibit modern yang berbekal ilmu, inovasi dan teknologi, yang saling terhubung dalam jaringan kerja organisasi mandiri dan solid dan dibina oleh instansi pemerintah pusat dan daerah yang fokus terhadap pembibitan itik.

Plt. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan H Arsyadi dalam menyampaikan Sambutan Gubernur Kalimantan Selatan menyatakan bahwa Kalimantan Selatan dianugerahi kekayaan di bidang peternakan yang cukup spesifik yaitu itik alabio, itik kebanggan warga Kalimantan Selatan yang telah diakui keunggulannya. H Arsyadi mengajak untuk menyatukan tekad dan usaha dalam menjaga kelestarian dan kemajuan itik lokal. Setiap pihak bergandengan tangan dan mengambil peran masing-masing antara pemegang kebijakan peternakan di pusat maupun daerah, kepakaran perunggasan baik di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, pelaku industri perunggasan itik lokal, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi perunggasan dan seluruh lapisan masyarakat yang peduli untuk tetap menjaga anugerah Tuhan dalam wujud itik lokal ini. Kita jadikan itik lokal sebagai tuan rumah di negeri kita sendiri. Akhir sambutan dilanjutkan dengan membuka pertemuan secara resmi.

Dialog yang dipandu oleh Kaprodi Peternakan Faperta Unlam Dr.Ir. Abrani Sulaiman, M.Sc berlangsung selama dua jam dan terjadi komunikasi dua arah antara stakeholder dengan narasumber utama menyangkut upaya dari berbagai pihak stakeholder dalam mengangkat perunggasan itik lokal, segala persoalan dan langkah-langkah untuk mensolusikannya.

Acara dilanjutkan dengan seminar yang disampaikan oleh penyaji (satu) Kepala Balai Penelitian Ternak Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc tentang Penelitian dan pengembangan itik lokal, penyaji (dua) Pakar Poultry breeding Fakultas Peternakan UGM Prof Dr Jaffendy tentang penggaluran itik lokal dan penyaji (tiga) Direktur PT Multi Unggul Sejahtera Bapak Andy Liem tentang potensi pasar. Seminar disempurnakan dengan pemaparan kebijakan perunggasan nasional oleh Direktur Perbibitan Ditjen PKH Ir. Abubakar MM dan kebijakan perunggasan daerah oleh Kadisnak Kalimantan Selatan Dr Ir Maskamian Andjam. Seminar yang dipandu oleh Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Dr Tri Yuwanta berlangsung seru hingga ditutup pukul 24.00 dan memberikan kesempatan pada setiap stakeholder untuk berdiskusi, bermitra dan bersinergi untuk memajukan perunggasan itik lokal.

Semoga apa yang dibicarakan dan disimpulkan dari pertemuan ini dapat memberikan inspirasi dan kontribusi positif untuk kemajuan perunggasan itik nusantara.
Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~