Jumat, 06 Januari 2017

Jumat, 06 Januari 2017 - Oleh Faisal Hendra - Kategori
Kasubdit Pemuliaan Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Abdul Karnaen menyampaikan bahwa sumber daya genetik merupakan unsur penting dalam pemuliaan ternak terutama untuk mendapatkan bibit bermutu. Sumber daya genetik tersebut perlu dimanfaatkan dan dilestarikan demi menunjang peningkatan produksi ternak sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia seharusnya bangga mempunyai sumber daya genetik hewan yang cukup banyak dan beragam seperti kambing gembrong, domba garut, sapi bali, dan sapi Madura. Pengelolaan sumber daya genetik hewan bisa dilakukan melalui kegiatan pemanfaatan dan pelestarian sumber daya genetik hewan misalnya pembudidayaan, pemuliaan, eksplorasi, konservasi dan penetapan kawasan pelestarian.

Guna mendorong pengembangan ternak sapi lokal untuk menopang kebutuhan daging sapi di dalam negeri. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Pelaihari bekerjasama dengan UPT Pembibitan dan Kesehatan Hewan Madura milik Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur menyusun sejumlah langkah pengembangan Sapi Madura.

Pertama, kedua UPT tersebut melaksanakan penjaringan ternak-ternak unggul yang hasilnya akan ditampung oleh BPTU HPT dan akan dikembangkan sebagai calon pejantan atau indukan unggul. Penjaringan ternak unggul dilakukan di UPT dan Kelompok Ternak, bukan di Pasar Hewan.

Kedua, UPT mewacanakan pertukaran Pengawas Bibit Ternak (Wasbitnak) antar kedua UPT tersebut, sehingga seluruh pihak saling bertanggung jawab terhadap pengembangan Sapi Madura.

Kepala BPTU HPT Pelaihari, Ir. Tohir, MP menyampaikan bahwa sinergitas antara dua UPT tersebut dinilai perlu dilakukan untuk mendorong populasi dan produktivitas Sapi Madura. Pertukaran Wasbitnak pun dapat dilakukan, sehingga kedua UPT lebih intensif dalam mengupayakan percepatan pengembangan Sapi Madura.

“Sinergi antara dua UPT milik pemerintah yang bergerak di bidang pembibitan ternak Sapi Madura ini sangat penting dilakukan dan sangat perlu untuk terus diupayakan. Kita perlu bertanggung jawab bersama terhadap pengembangan Sapi Madura,” ungkap Tohir dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/5/2016).

Wasbitnak Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Abdurrahman Arraushany menjelaskan, Sapi Madura merupakan Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) asli Indonesia yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur.

“Awalnya, sapi jenis ini hanya berkembang biak di Pulau Madura dan beberapa pulau di sekitarnya, dan sejumlah wilayah di Jawa Timur yang memiliki populasi suku Madura cukup banyak seperti Jember, Bondowoso, dan Pasuruan,” kata Abdurrahman.

Saat ini, Sapi Madura tercatat telah menyebar ke beberapa provinsi lain seperti Provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Meski kalah pamor dengan Sapi Bali, sapi Madura memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan dan menjadi sumber protein hewani masyarakat Indonesia.

Menurut catatan sejarah, masyarakat telah mengenal Sapi Madura sejak Abad 14 M. Pemerintah secara de jure mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian No 3735/Kpts/HK.040/11/2010 Tahun 2010 tentang Penetapan Rumpun Sapi Madura.

Pada tahun yang sama, Gubernur Jawa Timur lalu mengeluarkan Pergub no 59/2010, yang menyebut provinsi itu akan memaksimalkan pengembangan Sapi Madura sekaligus berupaya meningkatkan kesejahteraan peternak sapi Madura.

Uji Performans

Uji Performans merupakan salah satu upaya yang diinisiasi Pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan mutu genetik ternak dengan jalan memilih ternak berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif dari ternak yang bersangkutan. Kegiatan uji performan ini erat kaitannya dengan kegiatan pengukuran ternak dan recording (pencatatan). Kegiatan Uji Performan tidak dapat dipisahkan dengan program dan kegiatan perbibitan ternak sapi potong nasional. Karena uji performans merupakan ruh dari program pembibitan secara nasional.

Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Keswan Madura, Drh. Indra Subekti menyampaikan pelaksanaan uji performans pada sapi Madura telah dilaksanakan sejak tahun 2010. “Kami telah melaksanakan kegiatan Uji Performans sejak 2010, dimana lebih dari 5.000 ekor ternak yang telah kami lakukan pengukuran. Datanya pun lengkap, sehingga data ini bisa kita gunakan untuk pengambilan kebijakan pengembangan Sapi Madura ke depan.” Ungkap Indra. Indra mencatat tahun 2015 yang lalu tak kurang dari 16 kelompok ternak telah dijadikan sasaran pelaksanaan uji performans. Dari 16 kelompok tersebut, lebih dari 800 ekor ternak yang telah diukur dan dicatat dalam setahun.

“Pada 2014 lalu kami melakukan pengukuran dan pencatatan Sapi Madura baik di Pulau Sapudi yang menjadi sentra wilayah pembibitan Sapi Madura maupun di Madura daratan. Di Pulau Sapudi telah diukur sebanyak 2.211 ekor Sapi Madura. Dari jumlah tersebut sebanyak 17%-nya lolos SNI dan kami terbitkan SKLB (Surat Keterangan Layak Bibit). Di Madura daratan, tak kurang dari 560-an ekor telah kami ukur dan sekitar 35%-nya kami terbitkan SKLB,” tambah Indra.

Keunggulan lain sapi Madura memiliki tulang kecil sehingga dalam hal persentase daging atau meat yield sangat bagus. Kualitas daging sapi Madura jantan juga super dengan warnanya yang merah cerah dan sedikit lemak bahkan hampir bisa dikatakan lean alias tanpa lemak. Sapi Madura juga merupakan jenis sapi yang tahan dengan kondisi cuaca panas dan juga adaptasi pakan yang bagus meskipun dengan jenis pakan yang jelek. Dengan berbagai keunggulan tersebut maka layak jika sapi Madura harus semakin dikembangkan dan diternakkan baik di pulau Madura sebagai asal sapi tersebut maupun didaerah lainnya. Di dalam banyak literatur peternakan, sapi Madura dikenal sebagai salah satu bangsa sapi tropis yang ada di dunia, berkembang baik di pulau Madura dan sekitarnya. Populasi sapi Madura mencapai 600.000 ekor lebih sehingga menjadikan pulau Madura sebagai pulau dengan tingkat kepadatan ternak sapi “terpadat di dunia”.
   
Tercatat dalam sejarah, kongres dokter hewan dan ahli peternakan Indonesia di Pamekasan tahun l925 menghasilkan keputusan yang menjadi cikal bakal staadblaat No.57 tahun l934 yang mengatur diantaranya tentang pemurnian sapi Madura di Pulau Madura dan sapi bali. Revisi staadblaat No.57 tahun l934 dengan UU No.6 tahun l976 tentang pokok-pokok peternakan dan kesehatan hewan dan terakhir direvisi kembali dengan UU No.l8 tahun 2009 tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan masih mencantumkan pasal Pemurnian sapi Madura di Pulau Madura, artinya kebijakan terhadap pemurnian sapi Madura sebagai salah satu kekayaan plasma nutfah tetap dipertahankan. Hal tersebut diperkuat pula dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 3735/kpts/Hk.040/11/2010 tanggal 23 november 20l0 penetapatan sapi Madura sebagai rumpun ternak lokal Indonesia.



Sapi Madura Ber-SNI

Seperti dikutip dari Trobos.com, sebanyak 17% sapi Madura yang mengikuti uji performans lolos SNI dan diberikan SKLB (Surat Keterangan Layak Bibit). Uji performans yang dilakukan tahun 2015 lalu itu membuktikan kelayakan sapi Madura untuk dikembangkan. Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Keswan Madura, Indra Subekti mencatat tahun 2015 tak kurang dari 16 kelompok ternak telah dijadikan sasaran pelaksanaan uji performans. Dari 16 kelompok tersebut, lebih dari 800 ekor ternak yang telah diukur dan dicatat dalam setahun. “Di Madura daratan, tak kurang dari 560-an ekor telah kami ukur dan sekitar 35%-nya kami terbitkan SKLB,” tambah Indra.

Pada 2014, kata Indra, telah dilakukan pengukuran dan pencatatan Sapi Madura di Pulau Sapudi yang menjadi sentra wilayah pembibitan Sapi Madura dan di Madura daratan. Di Pulau Sapudi telah diukur sebanyak 2.211 ekor Sapi Madura. Menurut Indra, sebenarnya uji performans massal telah dilakukannya sejak 2010. menyampaikan saat itu lebih dari 5.000 ekor ternak yang telah disertakan dalam pengujian. “Datanya pun lengkap, sehingga bisa kita gunakan untuk pengambilan kebijakan pengembangan Sapi Madura ke depan.” ungkap Indra. Uji performans merupakan upaya mutu genetik ternak dengan jalan memilih ternak berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif. Kegiatan uji performan ini erat kaitannya dengan kegiatan pengukuran ternak dan recording (pencatatan).

Sejarah Sapi Madura

Sapi Madura merupakan hasil pembauran berbagai bangsa tipe sapi potong yaitu antara sapi Bali (Bos sondaicus) dengan Zebu (Bos indicus). Pejantan yang pernah dimasukkan ke pulau Madura termasu bangsa Bos taurus antara lain Red Denis, Santa Gestrudis dan pejantan persilangan antara Shorthorn dengan Brahman yang kesemuanya memiliki warna merah coklat. Sapi Madura adalah sapi potong tipe kecil merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong indigenus dan suseptable pada lingkungan agroekosistem kering dan berkembang baik di pulau Madura. Issue menunjukkan terjadinya penurunan produktivitas akibat seleksi negatif yaitu pemotongan sapi produktif/ tampilan yang baik, faktor inbreeding yang disebabkan selama ini pulau Madura merupakan wilayah tertutup untuk sapi potong lain.

Kemampuan produktivitas komoditas sapi Madura yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan lahan kering, relatih tahan terhadap penyakit dan kesuaian selera masyarakat. Keragaman genotipe sapi Madura cukup beragam dan memiliki kisaran berat badan 300 kg dan pada pemeliharaan kondisi baik untuk perlombaan mampu mencapai 500 kg, dan memiliki persentase karkas sampai 60 %, efsiensi reproduksi cukup rendah, disamping itu sapi Madura memiliki nilai sosiobudaya digunakan atau dilombakan sebagai sapi Kerapan dan sapi Sonok (pajangan).

Keunggulan Sapi Madura

1.    Pertumbuhan yang baik pada kualitas pakan yang jelek
2.    Presentase karkas tinggi dengan kualitas daging yang cukup baik
3.    Daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan tropis
4.    Dapat berlari cepat sehingga biasanya digunakan untuk lomba balap sapi
5.    Mudah dipelihara.
6.    Mudah berkembangbiak di mana saja.
7.    Tahan terhadap berbagai penyakit.

Sapi madura memang salah satu jenis ternak kebanggaan warga madura apalagi sapi madura yang telah menjuarai karapan sapi harganya bisa ratusan juta rupiah per ekor. Sapi madura juga sudah mulai disilangkan dengan jenis sapi unggul lainnya. Salah satu jenis persilangan sapi madura yang unggul adalah sapi madrasin. Sapi Madrasin ini adalah hasil perkawinan silang antara sapi madura dengan sapi limousine.

Dengan kelebihan-kelebihan tersebut , Sapi Madura banyak diminati oleh para peternak bahkan para peneliti dari Negara lain. Sudah banyak Sapi Madura dikirim ke daerah lain, apabila tidak diperhitungkan dengan baik, bisa jadi populasi Sapi Madura di pulau Madura akan terkuras serta mengancam kemurnian ras-nya. Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, memang mempunyai tempat yang khusus. Jasanya terhadap para petani tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah pertanian yang tandus tetap dapat ditanami dengan bantuan Sapi. Alat transportasi yang sulit didapat di pedalaman Madura juga dapat teratasi dengan tenaga sapi yang dipadukan dengan pedati, yang disebut dengan “Sapi Pajikaran”.


Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~