Senin, 17 April 2017

Senin, 17 April 2017 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori
Ternak itik merupakan salah satu komponen penting dalam sistem usaha pertanian. Indonesia mempunyai itik lokal, dikenal sebagai itik Indian Runner yang produktif sebagai itik petelur (Samosir, 1993; Pingel, 2005). Meskipun satu rumpun, beberapa itik lokal yang tersebar di seluruh wilayah nusantara mempunyai berbagai nama, menurut daerah atau lokasinya masing-masing. Bangsa itik lokal yang cukup dikenal antar lain itik Tegal, itik Bali, itik Mojosari, itik Magelang dan itik Alabio. 

Itik alabio merupakan salah satu rumpun itik lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Kalimantan Selatan, dan telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2921/Kpts/OT.140/6/2011 tanggal 17 Juni 2011. Itik alabio disebut juga sebagai itik dwiguna (dual purpose), karena disamping penghasil telur juga menghasilkan daging yang mempunyai rasa lezat dan kaya akan protein, terutama daging itik pejantan. Sebanyak 19,35% dari 793.800 ton kebutuhan telur di Indonesia diperoleh dari telur itik (Ditjennak, 2001). Upaya pelestarian dan pengembangan itik alabio harus diupayakan guna mempertahankan keberadaan plasma nutfah ternak Indonesia yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitar.  Dibandingkan dengan unggas  air  lainnya  seperti  angsa  yang  ada  saat  ini,  itik  lokal  merupakan  yang  paling  populer di Indonesia. Ternak itik memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan ternak unggas yang lainnya, diantaranya ternak itik lebih tahan terhadap penyakit, sehingga pemeliharaannya mudah dan kurang beresiko. 

Populasi itik Alabio di Kalimantan Selatan tahun 2010 sebanyak 4.354.121 ekor dengan tingkat pertumbuhan 4,17%, produksi telur dan daging masing-masingsebesar 27.733.704 kg dan 1.525.615 kg (Dinas Peternakan Propinsi KalimantanSelatan  2011). Populasi itik Alabio terbesar terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Utara 1.280.591 ekor (BPS Kabupaten Hulu Sungai Utara 2010), KabupatenHulu Sungai Selatan 935.927 ekor (BPS Kabupaten Hulu Sungai Selatan  2010), dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebesar 947.115 ekor  (BPS Kabupaten Hulu Sungai Tengah  2010) dan sisanya tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Selain sebagai sumber plasma nutfah, itik Alabio mempunyai nilai ekonomis tinggi. Hal tersebut ditunjukkan sekitar 46.81% merupakan mata pencaharian utama peternak itik Alabio di Kalimantan Selatan (Biyatmoko  2005). Kontribusi terhadap total pendapatan keluarga peternak itik, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 42.09%  (Rohaeni & Tarmudji  1994) dan 52.80% masing-masing di Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan (Zuraida  2004).  Itik Alabio berkontribusi terhadap produksi telur sebesar 47.73% dari total produksi telur unggas di Kalimantan Selatan (Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan  2008).  

Permintaan pasar akan produk itik (telur dan daging) akhir - akhir ini terus meningkat, seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi produk tersebut. Permintaan produk yang meningkat, perlu diimbangi dengan penyediaan bibit itik yang berkualitas dalam jumlah besar dan berkelanjutan, untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Kebutuhan produksi bibit dalam jumlah besar, tidak dapat dipenuhi dengan pemeliharaan itik secara tradisional, melainkan harus dilakukan intensif. Perubahan sistem budidaya dari tradisional kepada intensif, perlu didukung ketersediaan teknologi yang memperhatikan prinsip manajemen usaha peternakan modern, berorientasi ekonomis, berwawasan lingkungan untuk mencapai keuntungan optimal. Salah satu upaya untuk menyediakan bibit itik yang baik, dapat dilakukan dengan pemeliharaan itik Alabio secara intensif. Dengan demikisan diharapkan pembibitan yang dilakukan oleh BPTU-HPT Pelaihari dapat dalam rangka pelestarian mendukung upaya pemerintah  dan pengembangannya sebagai salah satu sumber plasma nutfah ternak unggas lokal di Kalimantan Selatan. 

Itik Alabio memiliki ciri-ciri fenotipik berbeda serta performa beragam dibanding itik lokal lain di Indonesia. Itik Alabio memiliki keunggulan dalam  produksi telur, walaupun keragamannya masih tinggi. Keragaan itik Alabio antara lain meliputi: produksi telur 220-250 butir/ekor/tahun, puncak produksi 92.70%, berat telur 59-65 g/butir, konsumsi pakan 155-190 g/ekor/hari, dewasa kelamin 179 hari, daya tunas 84.80-90.83%, daya tetas 79.48%, mortalitas day old duck (DOD) 0.75-1.0%, bobot badan betina umur 6 bulan 1600 g dan jantan 1750 g. Selain sebagai penghasil telur dan daging, itik Alabio penting dilihat juga dari fungsi non pangan, seperti penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan peternak. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa itik Alabio mempunyai nilai ekonomis tinggi. Hal ini dibuktikan berkisar antara 46.81-52.80% merupakan mata pencaharian utama peternak itik Alabio, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Sebagai komoditas unggulan daerah, itik Alabio saat ini dipelihara secara semi intensif dan intensif. Pergeseran sistem pemeliharaan dari cara lanting kepada sistem intensif yang sepenuhnya terkurung / dikandangkan, memerlukan penyediaan faktor-faktor produksi yang berkualitas, terutama bibit dan pakan untuk mencapai kelayakan ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan bahwa usaha ternak itik Alabio bukan hanya dipandang sekedar usaha sambilan, melainkan telah mengarah kepada cabang usaha pokok dengan orientasi komersial. Khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara, usaha beternak itik Alabio sudah menjurus kepada spesialisasi usaha, yaitu sebagai penghasil telur konsumsi, itik dara, telur tetas dan bibit/ DOD. Saat ini, pembibitan itik lokal telah dilakukan oleh BPTU-HPT Pelaihari. Pendampingan dan pembinaan intensif pasca penjualan bibit/ DOD kepada peternak oleh pemerintah dalam pengelolaannya untuk keperluan jangka panjang sangat diperlukan. Keberadaan itik murni di habitatnya dapat merupakan reservoir bagi kekayaan plasma nutfah, baik sebagai koleksi dan konservasi keanekaragaman hayati, maupun untuk materi pemuliaan di masa mendatang. 

Pembibitan itik alabio oleh BPTU-HPT Pelaihari dilakukan dalam rangka mendukung pelestarian sumber daya genetik ternak asli Indonesia, perlindungan konsumen, peningkatan kualitas itik lokal dan peningkatan kinerja agribisnis dan agroindustri. Pembibitan itik alabio oleh BPTU-HPT Pelaihari sebagai penghasil bibit, Itik Alabio mempunyai peluang untuk ditingkatkan produktivitasnya. Peningkatan produktivitas itik Alabio, salah satunya dengan sistem pemuliaan secara terarah dan terstruktur, baik terpisah ataupun kombinasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Suparyanto (2003;2005) dan Prasetyo (2006), bahwa untuk meningkatkan produktivitas ternak itik dapat dilakukan program seleksi yang terstruktur, sehingga diperoleh itik yang lebih seragam.  

Sebagai salah satu sumber plasma nutfah daerah dan nasional, eksistensi itik Alabio sebagai sumber daya genetic spesifik lokasi mempunyai peranan penting, dalam menambah jumlah koleksi keanekaragaman ternak unggas lokal asli Indonesia. Itik Alabio telah beradaptasi dan berkembang biak dengan baiki wilayah Kalimantan Selatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 35/Permentan/OT.140/8/2006, tentang Pedoman Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik, maka upaya pelestarian dan pengembangan itik Alabio sebagai salah satu sumber plasma nutfah itik lokal di Kalimantan Selatan penting dilakukan. Walaupun itik Alabio belum termasuk populasi dengan kategori terancam, yang menurut Departemen Pertanian (2006), kategori populasi terancam berkisar antara 1000 - 5000 ekor, sementara populasi itik Alabio berdasarkan Direktorat Jenderal Peternakan (2009) tercatat sebanyak 4.194.535 ekor.  Pengembangan itik Alabio di Kalimantan Selatan dengan pewilayahan (sumber bibit dan produksi), perlu dipertahankan dan dilaksanakan lebih baik lagi, sesuai dengan potensi dan daya dukung lahan yang ada. Hal ini mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2009, tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, bahwa untuk mengantisipasi terjadinya penggerusan materi genetik ternak lokal Indonesia.

Keberadaan dan peranan asosiasi peternak itik Alabio/pedagang itik yang sekarang kondisinya belum menggembirakan perlu didorong dan ditingkatkan lagi. Peranan BPTU-HPT Pelaihari sebagai wadah bagi peternak itik Alabio dalam bentuk asosiasi ini, diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi dari lembaga penelitian sebagai perekayasa teknologi kepada peternak sebagai pelaku usaha.  Partisipasi, dukungan dan peran aktif semua pihak dalam menjaga kelestarian itik Alabio sangat diharapkan, sehingga keberadaan itik Alabio dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya genetik ternak lokal dalam program pemuliaan ternak di Indonesia. Didukung dengan kemampuan dan pengalaman peternak dalam budidaya itik Alabio, serta kearifan lokal (indigenous knowledge) yang dimiliki menunjukkan bahwa, pola pelestarian itik Alabio yang telah dilakukan BPTU-HPT Pelaihari, serta didukung oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan sudah baik. 


Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~