Kamis, 26 Oktober 2017

Kamis, 26 Oktober 2017 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori
PERTEMUAN PENGEMBANGAN USAHA PETERNAKAN KAMBING DI INDONESIA 24-25 Oktober 2017 di BBPTUHPT Baturraden
Purwokerto, Pertemuan dibuka oleh Kepala Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden (Ir. Sugiono, MP) dan dihadiri oleh perwakilan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, perguruan tinggi (Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Universitas Jenderal Soedirman dan UNU), Pengurus HPDKI, Litbang, BPTU-HPT Pelaihari, Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan (Provinsi Jawa Tengah, kabupaten Purworejo dan Banyumas), Balitnak, Kelompok Ternak (Kaligesing dan Pegumas), pegawai BBPTUHPT Baturraden.

Rumusan yang dihasilkan sebagai sebagai berikut:
1.  Kambing perah penghasil susu dan daging berfungsi sebagai sumber protein sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
2. Pemerintah berkewajiban dalam pengembangan usaha pembibitan dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk menjamin ketersediaan bibit (Undang-undang No.41 Tahun 2014).
3. Dalam rangka pemenuhan swasembada protein asal hewan dan kebutuhan bibit kambing nasional, diperlukan upaya pengembangan usaha peternakan kambing di Indonesia.
4. Upaya pengembangan kambing dilakukan melalui peningkatan populasi, optimalisasi produksi, penguatan kelembagaan, penguatan sarana, regulasi dan deregulasi, penyediaan data serta dukungan anggaran dengan melibatkan semua elemen baik peternak, pemerintah, BUMN dan swasta
5.  Penetapan galur, rumpun dan wilayah sumber bibit ternak perlu diikuti dengan pemantauan populasi dan kualitas ternak di wilayah binaan sumber bibit sebagai salah satu upaya mendukung pelestarian plasma nutfah
6. Meningkatnya permintaan bibit kambing perah di masyarakat disebabkan oleh  ketertarikan budidaya dan pembibitan, prospek yang menjanjikan, harga bibit dan susu yang baik, nilai jual usaha yang bagus. Berkenaan dengan hal tersebut diharapkan masyarakat memperoleh bibit yang mudah, harga terjangkau dan berkualitas
7. BBPTUHPT Baturraden mendukung peningkatan farming-breeding practice dan SDM bidang peternakan dengan memberikan pelatihan, magang dan bimbingan teknis kambing perah.
8.  Diperlukan peningkatan jumlah dan fungsi pengawas bibit ternak di wilayah sumber bibit untuk memantau pengembangan bibit ternak
9.   Inseminasi Buatan (IB) kambing masih belum memberikan hasil yang menggembirakan, perlu pengembangan teknologi yang mendukung percepatan populasi kambing perah
10.   Keberhasilan proses produksi bibit kambing (GBP) bergantung atas keberhasilan budidaya (GFP). Rantai produksi bibit berupa breeding, feeding, manajemen (routine handling), desease control (sanitasi, preventif, kuratif), marketing, breeding seleksi harus dilakukan secara optimal.
11. Hal-hal yang menjadi perhatian dalam pengembangan industri kambing perah, antara lain data belum tersedia, ketersediaan bibit sedikit dan belum merata, kualitas SDM peternak relatif masih rendah, akses pemenuhan pakan ternak berkualitas terbatas, perijinan relatif sulit didapat, ketersediaan tenaga kesehatan hewan terbatas,  akses permodalan masih terbatas, pasar susu kambing belum sebesar susu sapi, kualitas susu kambing yang tidak terstandar, kebijakan dan keberpihakan pemerintah belum terlihat.
12.Diperlukan cluster industri peternakan kambing perah yang berbasis efisiensi dan daya saing dimana peternak rakyat terlibat, merasakan nilai tambah dan memiliki setiap lini usaha dalam industri.
13. Usulan lokasi percontohan cluster antara lain di Jawa Tengah (Banyumas), Jawa Timur (Lumajang), dan Jawa Barat (Bogor) .
14. Inventarisasi seluruh plasma nutfah kambing perah di Indonesia baik yang sudah maupun belum ditetapkan berdasarkan Kepmentan. Hasilnya digunakan untuk merevisi Kepmentan yang sudah ditetapkan (pengecekan ulang ukuran-ukuran tubuh yang dijadikan standar bibit untuk masing-masing galur, utamanya kambing PE, ras Kaligesing dll).
15. Kontes merupakan sarana memotivasi sekaligus memberikan penghargaan bagi pelaku pembibitan untuk memunculkan bibit-bibit berkualitas.
16.Pembentukan satuan tugas khusus yang menangani pembentukan/pengembangan industri kambing perah yang terdiri HPDKI, perguruan tinggi, Litbang, dan pemerintah daerah.
17. Dibentuk pilar pendukung pengembangan kambing perah yaitu: BBPTUHPT Baturraden, HPDKI dan peternak (melalui asosiasi) dengan menerapkan close nucleus breeding scheme (untuk satu rumpun) atau open nucleus breeding scheme. BBPTUHPT Baturraden menjadi pusat pengembangan kambing perah dengan didukung oleh HPDKI termasuk dalam implementasi dan pendataan.
18. Asosiasi (HPDKI) mendorong secara nyata pengembangan (pendistribusian) bibit unggul sekaligus melakukan pendataan terhadap keturunan kambing-kambing yang telah didistribusikan

-mirwanbudianto-
Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~