Rabu, 18 Juli 2018

Rabu, 18 Juli 2018 - Oleh BPTU-HPT Pelaihari - Kategori

                Pakan menjadi salah satu bagian terpenting dan merupakan proporsi terbesar dari biaya produksi dalam sebuah usaha budidaya ternak yaitu sekitar 60 – 70%, termasuk salah satunya dalam usaha budidaya itik petelur.  Pakan bagi itik petelur selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pertumbuhannya, juga sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan baik kuantitas maupun kualitas dari telur yang dihasilkan.  Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pakan yang diberikan termasuk jumlah dan kandungan nutriennya.  Pakan itik, termasuk itik petelur yang dipelihara dengan menggunakan sistem intensif biasanya memakan biaya produksi yang cukup tinggi, terutama ketika pakan yang diberikan untuk semua fase pertumbuhannya baik fase starter, grower maupun layer adalah pakan komersial penuh, maka akan menjadikan biaya pakan menjadi tinggi. Walaupun dari segi pemenuhan kebutuhan nutrien itik, terutama untuk pertumbuhan dan produksi telur dapat terpenuhi jika jumlah yang diberikan sesuai dengan kebutuhan itik.
                Pemberian pakan komersial (pakan konsentrat buatan pabrik) sebenarnya disarankan untuk pemeliharaan itik periode awal untuk pertumbuhan anak itik, yaitu hingga itik berumur sekitar 3 – 4 minggu.  Setelah itu, itik kemudian dapat diberikan pakan berupa campuran pakan konsentrat dengan bahan pakan lainnya seperti dedak, bekatul, jagung giling ataupun bahan pakan lain yang aman dan dapat memenuhi kebutuhan gizi itik tersebut.  Hanya saja dalam membuat pakan campuran sendiri, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah bahwa bahan pakan yang digunakan harganya relatif murah, mudah didapatkan, mempunyai nilai gizi, bebas dari residu atau bahan berbahaya dan kandungannya dapat menggantikan bahan pakan konsentrat dalam pemenuhan kebutuhan nutrien itik.  Hal tersebut tentu menjadi kendala untuk daerah – daerah yang sulit memperoleh bahan – bahan pakan tersebut, terkait ketersediaan dan harganya yang justru biayanya dapat menjadi lebih tinggi dibandingkan menggunakan pakan pabrikan.  Oleh karenanya, dibutuhkan bahan lain yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan alternatif dengan ketersediaan baik kuantitas maupun kualitasnnya terjamin.  
                 Bahan pakan alternatif merupakan bahan pakan lokal yang belum banyak digunakan. Sehingga perlu dilakukan penggalian potensi terhadap sumber daya alam di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif.  Penggunaan bahan pakan alternatif sendiri walaupun tidak secara keselurahan mengganti pakan pabrikan diharapkan dapat menghemat pengeluaran biaya untuk pakan, namun dengan tetap memperhatikan bahwa bahan pakan alternatif yang digunakan tersebut aman dan mampu memenuhi kebutuhan pakan itik.  Salah satu yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pakan alternatif adalah hijauan Indigofera. 
Hijauan Indigofera sp merupakan salah satu jenis leguminosa pohon atau tanaman dari kelompok kacangan berbentuk pohon dengan ukuran sedang. Penggunaan Indigofera memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan adalah karena kandungannya yang cukup tinggi.  Kandungan protein kasar maupun lemak kasar Indigofera sp. tergolong tinggi, yaitu berturut-turut 24.2 dan 6.2% (Hassen et al. 2008).  Indigofera sendiri sampai saat ini hanya terbatas pada pemanfaatan untuk pakan ternak ruminansia dan belum banyak digunakan untuk bahan pakan unggas. Oleh karena bahan pakan yang dibutuhkan oleh ternak non ruminansia termasuk unggas adalah bahan pakan yang tidak hanya memiliki protein yang tinggi, tetapi juga bahan pakan yang kandungan serat kasarnya rendah.
                  Bagian dari tanaman Indigofera yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan pakan alternatif untuk itik adalah pucuknya.  Pucuk tanaman yang dimaksudkan adalah bagian tanaman paling atas dengan diamater batang kurang dari 5 mm atau yang memiliki 4 – 5 tangkai daun pada bagian atas. Bagian pucuk tanaman Indigofera jenis Indigofera zollingeriana memiliki produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang cukup baik, yaitu dengan kandungan protein sekitar 28.98%; serat kasar 8.49%; kalsium 0.53%; fosfor 0.34%; tanin 0.29%; saponin 0.036% dan 507.6 mg kg-1 β-caroten (Palupi et al. 2014).  Kandungan serat kasar pucuk Indigofera sendiri relatif lebih rendah dari dedak dengan kandungan energi metabolis yang cukup tinggi yaitu sekitar 2.791,12 kkal/kg, lebih tinggi dibandingkan dengan bungkil kedelai (Palupi 2015).  Sementara, untuk nilai nutrisi tepung daun Indigofera adalah sebagai berikut:  protein kasar 27.97%; serat kasar 15.25%, Ca 0.22% dan P 0.18% (Akbarillah et al. 2002).  Tanaman Indigofera zollingeriana yang dipanen panen umur defoliasi 38 hari sampai 88 hari mengandung protein 23.40 – 27.60% dan serat kasar kasar 10.97 – 15.02% (Abdullah dan Suharlina 2010).  
                    Pemberian Indigofera sebagai pakan itik dapat diolah dalam bentuk tepung dan dicampur dalam ransum pakan itik.  Selain itu juga dapat diberikan segar setelah sebelumnya dibersihkan dan dicacah.  Pemberian hijauan sendiri dalam hal ini Indigofera untuk memenuhi kebutuhan serat bagi itik yang tidak diberikan pakan pabrikan secara penuh.  Selain membantu melancarkan pencernaan itik, pakan hijauan juga memasok kebutuhan vitamin dan mineral.  Akan tetapi penggunaannya juga harus tetap diperhatikan dengan jumlah pemberian yang tidak terlalu tinggi, agar tetap dapat memberikan manfaat bagi itik serta tidak menganggu kesehatan, performa dan produktivitas itik.  Menurut Akbarillah et al. 2010, persentase penggunaan Indigofera sekitar 5 – 10% masih dapat digunakan sebagai campuran bahan pakan itik.

Informasi dan Publikasi lainnya dapat anda lihat selengkapnya di Publikasi Lainnya >>
  • Pengumuman Pengadaan Barang & Jasa
  • ~ Untuk mendapatkan resolusi dan tampilan terbaik kami sarankan menggunakan browser Mozila Firefox atau Google Chrome ~